Showing posts with label Islamia. Show all posts
Showing posts with label Islamia. Show all posts

Thursday, June 18, 2009

Islam disebarkan dengan pedang ??? So what ??? (1)

Rasanya hampir setiap kajian yang menyorot sejarah perkembangan dan penyebaran agama islam selalu sampai kepada satu titik kesimpulan bahwa islam disebarkan dengan pedang. Khususnya kajian-kajian para peneliti barat yang kemudian jamak disebut sebagai orientalis.
Cap yang telah melekat di dada para orientalis tentang ketidak obyektifan mereka dalam melakukan kajian dan riset serta agenda terselubung untuk membantu imperialisme kemudian melahirkan sikap pukul rata dari umat islam bahwa setiap yang datang dari mereka adalah salah dan tidak lagi ilmiah karena sejak awal sudah diniatkan untuk mendiskreditkan islam.
Dan bertubi-tubi berbagai buku pun mencuat dari tangan banyak sarjana muslim untuk mengcounter dan membantah berbagai hasil kajian orientalis dengan metode-metode yang mereka anggap lebih ilmiah termasuk tentunya dalam masalah penyebaran islam dengan pedang.

Cukup banyak kita dapatkan buku-buku baik yang secara khusus membahas hal ini ataupun yang menyertakan masalah ini dalam salah satu pembahasannya, maupun kajian-kajian di jurnal-jurnal ilmiah yang dengan tegas menolak penyebaran islam dengan pedang. Paling tidak ada dua hal pokok yang menjadi alasan mereka dalam hal ini ;
Yang pertama berkaitan dengan sifat islam yang rahmatan lil alamin, sebuah agama yang menganjurkan kasih sayang dan cinta di antara manusia. Dengan mengutip banyak ayat-ayat alquran yang berkaitan dengan hal ini, mereka kemudian berusaha membuktikan bahwa islam adalah agama damai dan terlalu naïf apabila kemudian dikatakan bahwa islam disebarkan dengan pedang.
Yang kedua adalah fakta tersebarnya islam di berbagai belahan dunia melalui jalur damai dan tanpa kilasan pedang sedikitpun, dan untuk ini biasanya Indonesia adalah contoh yang paling menjadi favorit. Sebuah Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menerima islam melalui para pedagang muslim yang berasal dari yaman dan India, tanpa sedikitpun darah tercecer dan tak sekejap pun kilatan pedang terlihat. Apakah ini tidak cukup menjadi bukti bahwa islam tidak disebarkan dengan pedang?? Sebuah pertanyaan tantangan yang tentunya dibentangkan ke hadapan para orientalis.

Satu hal yang sering menjadi pertanyaan di dalam benak saya adalah ; kalau islam tidak disebarkan dengan pedang, lalu bagaimana dengan futuhat islamiah yang jelas-jelas merupakan gerakan ekspansi militer untuk menyebarkan agama ? terlepas dari pada banyak kasus pasukan tersebut tidak mendapatkan perlawanan berarti dan bahkan tanpa perlawanan sama sekali karena penduduk setempat telah lebih dahulu mendengar kesantunan prajurit islam dan keadilan yang ditawarkan agamanya. Namun sejarah juga mencatat perlawanan-perlawanan yang bergelimang darah dalam misi-misi futuhat tersebut.
Apakah karena "adab" terhadap agama, atau karena "takut kualat" kemudian ekspansi militer yang jelas-jelas dengan pedang terhunus tersebut kita anggap sebagai pembebasan kemudian ekspansi militer yang dilakukan bangsa eropa terhadap negara-negara islam kita sebut sebagai penjajahan, terlepas dari hasil dan kemajuan politik dan ekonomi yang didapat oleh Negara-negara jajahan islam di masa lalu dan keterbelakangan negara-negara jajahan eropa, toh bagaimanapun harus diakui bahwa keduanya mempunyai unsur pemaksaan.
Tiga opsi utama yang ditawarkan islam kepada penduduk dari "calon" wilayah jajahannya adalah : 1. masuk islam, 2. bayar jizyah (upeti) 3. perang. Ketika membaca opsi-opsi ini saya kemudian mencoba menempatkan diri saya sebagai penduduk dari tanah yang akan dimasuki tentara-tentara islam tersebut. Dan kemudian, atas nama kehormatan, harga diri, dan kemuliaan membela tanah air, saya dengan bangga akan memilih perang!!! Bagaimana mungkin saya membayar upeti kepada mereka yang datang entah dari mana, memaksa saya meninggalkan agama yang selama ini saya anut dengan ribuan pasukan dan pedang yang terhunus ??? hati saya akan mengatakan ini adalah penjajahan, membayar jizyah berarti saya harus menjadi tamu di rumah saya sendiri, membiarkan orang-orang yang datang dengan kekuatan militer ini menguasai tanah air saya…!! Karena itu pilihan yang paling masuk akal bagi saya adalah perang…


Read More..

Saturday, February 14, 2009

Sudah saatnyakah khilafah??

Kondisi umat islam saat ini bagaikan anak ayam kehilangan induk. Terlihat mandiri dalam berbagai bentuk Negara, namun pada hakikatnya lemah. Dalam konteks yang paling sederhana, dapat disimpulkan bahwa penyebab utama dari kelemahan umat ini adalah hilangnya kesatuan dan persatuan di antara berbagai komponen yang seharusnya saling mendukung. Sebuah kekuatan yang seharusnya menakutkan, sebuah kekuatan maha dahsyat yang dimiliki umat ini tenggelam, hilang nyaris tanpa jejak terkubur bersama hilangnya "ukhuwah islamiah" yang merupakan salah satu pondasi utama terciptanya masyarakat madinah dan seperti terlihat jelas dalam paparan sejarah, dari sana bermulanya ekspansi peradaban islam hingga puncak kejayaannya ketika islam menguasai peradaban, menjadi Negara super power tunggal pada masanya.


Satu hal yang cukup menggembirakan, salah satu hikmah dibalik pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Gaza, munculnya kembali kesadaran akan "persaudaraan muslim" kesadaran akan ukhuwah islamiah, bahwa umat islam adalah satu, satu iman, satu nabi, satu kiblat, satu qur'an, satu tubuh. Saya harap ini lah yang menggerakkan umat islam di seluruh dunia, munculnya kembali kesadaran tentang ukhuwah. Bukan keprihatinan akan matinya kemanusiaan yang saya rasa menjadi alasan utama yang menggerakkan mereka yang berasal dari aneka agama dan bermacam negara di seluruh dunia untuk tumpah ruah ke jalanan memprotes kekejaman Israel. Dan bagi umat islam harus ada alasan lain yang membedakan mereka dari umat lain, tidak hanya "rasa" kemanusiaan, tapi juga kesadaran akan "ukhuwah" dan kesatuan ummat.

Fenomena yang bertolak belakang justru dimunculkan oleh para pemimpin negara-negara islam. Khususnya tentunya yang berasal dari negara arab sebagai tetangga langsung dan terdekat dari palestina. Keengganan yang diperlihatkan dalam membantu secara langsung dan mengutuk Israel menimbulkan kekecewaan yang teramat dalam dalam diri umat ini. Sehingga timbul kerinduan akan hadirnya seorang pemimpin yang berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Gelombang kerinduan ini seolah mendapatkan obatnya dalam forum ekonomi internasional Davos pada akhir bulan januari lalu. Sikap tegas Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan yang memutuskan untuk walkout dan mengkritik keras Presiden Irael Shimon Peres dalam forum tersebut memberikan kesan yang cukup mendalam bagi sebagian kalangan. Bahkan lebih jauh, sikap ini mengingatkan kembali akan khilafah terakhir yang terpusat di turki. Sehingga sebagaimana dilaporkan dalam eramuslim, hari rabu 11 februari lalu bahwa Puluhan pemuda Mesir, misalnya, dalam sebuah forum di Face Book menyatakan Erdogan sebagai Pahlawan Bangsa Arab dari Ras Non-Arab (Bathl al-Ummah al-Arabiyyah wa Huwa Laysa Arabiyyan). Di forum tersebut, terdapat sub-judul dengan pertanyaan menarik: "Limadza La Nahlamu bi 'Awdah al-Khilafah al-Islamiyyah" (Mengapa KitaTidak Mengharapkan Kembalinya Masa Khilafah Islamiyyah?".

Isu khilafah memang bukan hal yang baru, Hizbut Tahrir dengan gigih sejak lama memperjuangkan kembalinya khilafah ke dunia islam, begitu juga dengan organisasi-organisasi lain yang berangkat dari kerinduan akan khilafah, walaupun ada yang tidak dengan lantang menyuarakan itu. Khilafah, adalah sebuah syarat utama bagi kembalinya kekuatan umat. Melihat apa yang terjadi di Gaza dan sikap para pemimpin yang terlalu banci dalam berhadapan dengan zionis israel, dan banyaknya kesulitan dan halangan yang didapat oleh mereka yang ingin berjuang di bumi jihad, baik dari pemerintah negara masing-masing, maupun persoalan tetek bengek perbatasan menyebabkan kepergian ke bumi jihad di negara muslim manapun menjadi satu hal yang amat sulit. Logikanya, dengan terciptanya khilafah, dan satu bendera yang menyatukan seluruh negara islam, maka di titik manapun pembantaian umat islam terjadi, saudara-saudara mereka yang lain tanpa kesulitan dapat menjangkau mereka dan bersama-sama berlomba menjemput syahadah, sebuah harapan yang indah.

Juga dapat dibayangkan kekuatan yang akan tercipta ketika negara-negara muslim saat ini benar-benar lebur menjadi satu dibawah payung khilafah. Sebuah negara besar akan muncul. Kekayaan alam yang dimiliki sangat cukup untuk menopang negara khilafah tersebut. Dengan potensi ekonomi yang dahsyat tersebut, khilafah ini akan kokoh dalam segala segi, posisi tawar yang tinggi dalam bidang politik, bahkan negara sekaliber Amerika, Rusia ataupun Cina akan berfikir dua kali untuk mencoba mengganggu kedaulatan negara ini. Apakah ini sebuah utopia ?? saya rasa tidak. Negara Madinah terbentuk dari gabungan antara kaum Muhajirin yang terusir dari kampung halaman mereka dengan golongan Anshar yang telah berikrar untuk mengorbankan apapun jua demi agama ini. Dari komunitas kecil yang saat itu mungkin terlihat lemah, sebuah peradaban dahsyat muncul dan menerangi kegelapan dunia saat itu. Dibandingkan dengan saat itu, maka umat islam saat ini memiliki perangkat yang lebih lengkap untuk mewujudkan cita-cita khilafah.

Satu hal mendasar yang membedakan kita dengan mereka adalah bahwa "ukhuwah islamiah" bagi mereka bukan sebatas jargon kosong tanpa makna, ukhuwah bagi mereka adalah nadi kehidupan yang bersandar dari aqidah yang menghunjam dalam dalam hati mereka, dan dengan kokoh membentengi mereka dari kenikmatan semu dunia yang saat ini menjadi penyebab utama akan berkembangnya kemunafikan dan kepengecutan dalam diri umat ini.

Read More..

Thursday, February 12, 2009

Lubang - lubang di langit

Ibrahim B. Sayed, seorang ahli fisika dan profesor obat-obatan nuklir dari Universitas Louisville, AS, mengungkapkan kekagumahnya atas kebenaran ayat-ayat Al-qur'an tentang fenomena-fenomena alam dari pandangan ilmu pengetahuan "Telah terbukti dalam sejarah, Islam tidak pernah berselisih dengan sains, dan Al-qur'an tidak berkontradiksi atau berlawanan dengan penemuan-penernuan salns modern. Sejalan dengan itu para pakar Barat memuji ilmuwan-ilmuwan Muslim yang telah menguasai Ilmu pengetahuan jauh lebih dulu dari mereka. Bahkan 1400 tahun sesudahnya, sains modern mulai menerangi kebenaran wahyu-wahyu Al-qur'an dan menguatkan keabsahannya." tutur Ibrahim B. Sayed selanjutnya.

Antara lain ia mengutip surah an-Nur: 43 yang isinya menceritakan bagaimana Tuhan mencucurkan hujan dari awan yang dltiupkan angln ke suatu tempat dan menjadl mendung yang klan pekat dan padat. "Tidakkah kaulihat Allah menggiring awan dan mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpang tindih. Maka kaulihat hujan pun turun dari celah-celahnya. Pada saat tersebut Allah menggambarkan proses terbentuknya awan dan hujan yang mengucur dari awan-awan itu. Fenomena ini sudah dikenal seluruh umat manusia dan bukan sesuatu yang luar biasa.
Akan tetapi, satu hal yang belum diketahui kebanyakan manusia adalah kelanjutan ayat tersebut yang bercerita tentang komet-komet salju, yang di situ dinamakan gunung-gunung dari baradin. Tetapi anehnya, bukan berasal dari awan, melainkan dari langit atau ruang angkasa. "Dan Allah menurunkan dari langit, gunung-gunung berisi butiran-butiran es yang dijatuhkan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya, dan dipalingkan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya."Ayat-ayat senada dapat dijumpai pula pada surah al-Baqarah: 22 yang mengatakan bahwa A1lah menurunkan air dari langit dan bukan dari awan. Juga pada surah Ibrahim: 32 serta an-Nahl: 10 dan 65.
Masalahnya ialah, mengapa Allah menyatakan bahwa ia menurunkan air dari langit, bertentangan dengan pernyataan lainnya bahwa air itu turun dari awan? Bila tidak dipelajari secara cermat, penggal kedua ayat 43 surah an-Nur tersebut, yang menyatakan bahwa Allah menurunkan gunung-gunung berisi butiran-butiran es, akan membuat orang kafir lebih meremehkan dan memandang rendah firman-firman Tuhan. Sebab yang dimaksud dengan baradtn dalam ayat Itu, atau hati dalam bahasa Inggrisnya, adalah hujan beku atau batu es.
Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa Tuhan menurunkan gunung-gunung berisi bola-bola es atau komet-komet salju dari langit ke bumi. Sampai tahun 1986 fenomena tersebut belum diketahui manusia. Barulah pada tahun 1988 kebenaran ayat itu mendapat konfirmasi dari ilmu pengetahuan, atau dalam bahasa yang lebih tepat, ilmu pengetahuan baru menemukan kebenaran ilmiah yang sudah lama diungkapkan oleh Alquran. Dr. Louis Frank, seorang ahli fisika dari Universitas Iowa (boleh dicatat nomor teleponnya, 319/3351695), mempelajari data yang dikumpulkan oleh satelit Dynamic Explorer 1 sejak tahun 1981 hingga 1986.
Satelit tersebut merekam gambar-gambar ultraviolet, terutama untuk mempelajari lapisan udara yang mengitari bumi. Dari gambar-gambar ini Dr. Louis Frank menemukan lubang-lubang yang menembus atmosfer. Hingga saat itu belum ada yang bisa menerangkan, lubang-lubang apa itu sebenarnya. Ia memilah-milah sejumlah penjelasan dari berbagai pakar setelah menganalisisnya dengan tekun. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa lubang-lubang itu hanya mungkin terbuat oleh bola-bola es atau komet-komet salju yang datang dari ruang angkasa (langit).
Ia memperkirakan, tiap komet beratnya sekitar 100 ton, terbungkus oleh laplsan hidrokarbon berwarna hitam. Komet-komet itu berjatuhan ke bumi kurang-leblh 100 juta banyaknya tiap tahun, atau 19 butir tiap menit. Ukurannya kira-kira 30 kaki (20 meter). Menurut Dr. Clayen Yeates, ahli fisika pada Laboratorium Tenaga Dorong Jet dl Pasadena, komet-komet tersebut berkecepatan 10 km per detik sejajar dengan kecepatan bumi, dan berada 1000 km di atas bumi. Bola-bola batu atau komet-komet salju itu lalu berpencaran menjadi butiran-butiran kecil dan menguap dl atmosfer. Akhirnya uap ini akan berjatuhan sebagal hujan dan menyatu dengan sistem perputaran air di bumi.
Dalam perhitungan Dr. Louis Frank, tiap 10.000 tahun komet-komet itu dapat mengisi satu Inci dari seluruh persediaan air yang terdapat di bumi. Maka bumi ini terbentuk 4,9 biliun tahun yang lalu, dan kejadian tersebut sudah berlangsung sejak awal terbentuknya bumi, proses turunnya komet-komet itu memang dapat memenuhi kebutuhan air untuk mengisi semua lautan dan bungkahan-bungkahan salju dl kutub.
Dengan menggunakan teleskop yang dapat menangkap seisi ruang angkasa di Observatorium Kltt Peak, Arizona, Dr. Yeates meneropong ke langit dan melihat bola-bola es jtu berada pada jarak 150.000 km di atas bumi. Ia berhasil memotret bola-bola es atau komet-komet salju itu kian mendekati bumi. Seraya mendecak takjub la berkata kepada Prof . Ibrahini B. Sayed, "Sungguh mengherankan. Hasil-hasil penyelidikan ini sesuai betul dengan ramalan-ramalan Al-qur'an."
Pengalaman yang agak berbeda terjadi atas diri Prof. Dr. Germanus, seorang orientalis darj Hongarja. Selaku ahli ketimuran la telah mengenal Islam sejak lama, tetapi ia bukan Muslim. Ia menguasai bahasa-bahasa Timur, termasuk Arab dan Turki. Pada suatu hari, secara mengejutkan ia masuk masjid jami' di New Delhi, India. Di hadapan sejumlah umat Islam yang baru saja selesai mengerjakan salat Jumat ia bercerita:
"Segala pengetahuan yang terhimpun selama berabad-abad telah saya tekuni. Beribu-ribu halaman buku sains telah saya pelajari. Tetapi, jiwa saya bagaikan musafir yang selalu dahaga. Saya telah mendapat pengetahuan dl otak, namun hati saya mendambakan taman sejuk yang tidak saya peroleh dalam agama Nasrani. Tiba-tiba pada suatu malam saya bermimpi didatangi utusan Tuhan, Muhammad, yang sejarahnya telah saya ketahui dan peranginya saya kagumi. Dalam mimpi Itu Rasulullah yang tampak amat tampan dan menyebarkan bau wangi berkata kepada saya: Mengapa engkau cemas? Jalan lempang sudah terbentang di muka engkau. Engkau telah mengenal Islam. Apa sebabnya engkau tidak mau menempuh jalan yang lempang Itu?"
Esok harinya Germanus tanpa ragu-ragu lagl segera menganut agama Islam, dan namanya dllengkapi menjadi Prof. Dr. Abdul Kadir Germanus.

Read More..

Wednesday, February 11, 2009

ulama vs "ulama"

Dalam perjalanan sejarahnya, umat ini telah melahirkan banyak mutiara-mutiara yang menghiasi dinding-dinding peradaban manusia, yang menyinari kelamnya fikiran dengan pemikiran-pemikiran menakjubkan hampir di setiap bidang kehidupan. Sosok-sosok inilah yang menjadi lokomotif penggerak bagi kemajuan uamt ini, yang membangunkan mereka dari kealpaan dan tidur lena yang panjang. Kadang kita menyebut mereka sebagai ilmuan-ilmuan muslim, sebagian lain kita sebut sebagai pembaharu dan pelopor bagi kebangkitan islam, dan sebagian lain kita sematkan gelar ulama di dada mereka. Sangat banyak diantara mereka yang kemudian menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Malik, Syafi'i, Hambali, Hanafi, Umar Abdul Aziz, Harun Arrasyid, Sholahuddid Al-Ayyubi, Alkhawarizmi, Ibdu Sina, Ibnu Rusyd, sampai dengan Jamaluddin Al-Afghani, Hasan AlBanna, Sayyid Qutb, Syekh Ahmad Yasin, dan Yusuf AlQardlawi, mereka semua adalah sedikit diantara suluh yang pernah menyinari cakrawala pemikiran dunia islam.
Benar kata pepatah, semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin yang menerpanya. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin keras pula cobaan yang menantinya. Tidak heran kalau hampir setiap pribadi besar dalam sejararah peradaban umat ini, mendapatkan tokoh-tokoh lain yang menjadi duri dan rintangan bagi jalan yang ditempuhnya. Baik itu ketika ia masih hidup dan berkarya bagi kepentingan umat dan agama ini, maupun ketika ia telah menjemput syahadah berpulang ke haribaan Tuhannya.
Mungkin contoh yang paling nyata saat ini adalah kritikan-kritikan dan bahkan hujatan yang dialamatkan kepada pemikir islam modern yaitu Assyahid Sayyid Qutb dan ulama besar islam saat ini DR. Yusuf Qardlawi. Saya pribadi tidak akan pernah meragukan peran sentral mereka dalam usaha menuju kebangkitan dan menjadi inspirasi bagi ribuan pemuda dalam menapak masa depan mereka dan menentukan garis yang jelas bagi masa depan agama ini. Sehingga ketika menemukan buku-buku yang justru menghujat keduanya, perasaan aneh menjalar di dalam diri saya. Apalagi para penghujat itu menyebut diri sebagai pembela agama ini.

Adalah sebuah kewajaran apabila yang melontarkan kritrik dan hujatan adalah mereka yang terang-terangan berdiri memusuhi agama ini, karena ketakutan akan pengaruh pemikiran-pemikiran mereka bagi kebangkitan kembali umat islam. Bahkan walaupun saat ini Sayyid Qutb telah berpulang, namun buah fikirannya masih tetap hidup dalam dada jutaan generasi penerusnya. Namun nampaknya inilah yang ditakutkan mereka, sehingga berbagai buku yang ditujukan untuk mengcounter pemikirannya pun diterbitkan. Tentunya ini bukanlah satu hal yang mengherankan. Namun yang membuat saya miris adalah ketika menemukan bahwa hujatan-hujatan itu berasal dari mereka yang mengaku sebagai pembela aqidah, disini rasanya kita perlu berhenti sejenak, berfikir dan merenung, apa yang salah dengan umat ini. Apa yang salah dari mereka yang menyebut diri sebagai ulama saat ini ??!! bagaimana mungkin seorang yang datang dari tempat yang antah berantah, tanpa sedikitpun punya peran dalam kemajuan agama ini, kemudian dengan lantang melontarkan hujatan kepada sosok-sosok yang nyata-nyata memiliki andil dan mempunyai sumbangan keilmuan dan pemikiran yang besar di tengah-tengah umat..? karya monumental Sayyid Qutb dengan tafsir "Fi Zilalil Qur'an", ataupun magnum opus nya Qardlawi "Fiqhuz Zakah", adalah sedikit dari bukti nyata bagi peran mereka yang telah diakui oleh banyak ulama dan generasi.

Kompleksitas masalah umat yang terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan seolah tidak cukup bagi mereka, sehingga lebih suka mengalihkan perhatian untuk mencari aib sosok-sosok yang justru menyerahkan hidup mereka bagi tegaknya kalimat La ilaha Illallah di muka bumi, bahkan walaupun "aib-aib" yang dibeberkan sebenarnya terkesan dipaksakan. Sehingga kemudian muncul sebuah pertanyaan di diri kita, apa yang sebenarnya mereka cari...? apakah label sebagai pembela aqidah yang mereka sematkan kepada diri mereka adalah sebuah kenyataan dan ungkapan jujur karena Allah, ataukah hanya sebatas kedok bagi usaha licik mereka untuk menghalangi laju pengaruh kedua tokoh di atas dalam menginspirasi jutaan pemuda umat ini ?? ataukah mungkin hanya sebagai usaha untuk mendompleng kemasyhuran mereka sehingga dengan begitu, mereka aka turut dikenal dan mendapatkan nama di tengah umat ??

Kalau ini kondisi yang kita hadapi sekarang, bagaimana mungkin bisa mengharapkan kebangkitan kembali umat ini dalam waktu dekat, sementara mereka yang mengaku sebagai ulama dan seharusnya berperan sebagai lokomotif penggerak malah sibuk mencari aib dan menyerang mereka yang seharusnya diteladani. Karena itu, kepada mereka yang benar-benar jujur dalam memperjuangkan agama ini, dan jujur ingin membela aqidah ini, saya ingin menyampaikan bahwa jangan kotori kejujuran anda dengan menghujat pribadi-pribadi yang telah menerangi pemikiran kami yang sempat dilingkupi oleh kegelapan jahiliah modern, jangan nodai kejujuran anda untuk hal-hal yang nantinya akan anda sesali. Masih sangat banyak permasalahan umat yang harus dipecahkan dan dicarikan solusinya bersama-sama, sehingga kenapa harus membuang energi untuk sesuatu yang sia-sia. Dan jangan hancurkan kejujuran anda dengan membuka jalan-jalan perselisihan baru yang justru akan semakin menambah beban umat ini.

Sedangkan bagi anda yang hanya ingin mendompleng ketenaran mereka, sehingga anda bisa mensejajarkan nama anda dengan mereka karena mampu mengorek-ngorek aib mereka dengan alasan-alasan palsu yang terlalu lemah, saya ingin menyampaikan, kenapa tidak anda hentikan itu saat ini juga..?? masih sangat banyak hal-hal lain yang bisa anda kerjakan, dan banyak urusan-urusan besar lain yang harus diselesaikan dan kalau anda mampu memberikan solusi-solusi cerdas, sebagaimana kecerdasan anda dalam memanipulasi fakta untuk menjatuhkan pribadi-pribadi cemerlang seperti yang saya sebutkan di atas, kalau anda mampu untuk memberikan solusi-solusi cerdas itu, saya yakin dengan sendirinya anda akan mulai menyaksikan nama anda mendapat pengakuan yang semestinya di tengah-tengah umat. Namun sekali lagi, bukan dengan saling menjatuhkan. Bukankah anda lebih tahu bahwa Rasul pernah mengatakan bahwa alangkah berbahagianya mereka yang sibuk dalam menghitung-hitung aib mereka sendiri, sehingga tidak sempat lagi untuk mencari-cari dan mengorek-ngorek aib saudaranya yang lain ?? mari jadikan ini sebagai pijakan dan titik tolak bagi kita semua untuk memulai dan mengambil semangat yang dihembuskan oleh banyak mutiara-mutiara yang pernah dilahirkan umat ini, dan dengan dasar ukhuwah yang erat, saya yakin, anda, mereka, dan banyak lagi generasi-generasi yang akan datang, akan turut melengkapi untaian mutiara-mutiara tersebut dan menambah keindahan perjalanan sejarah peradaban umat ini.

Read More..

Tuesday, April 24, 2007

apa kata injil ttg Muhammad SAW

Apa kata injil tentang Muhammad SAW

“Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al-Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an…' "(QS. Al-Ahqaaf: 10).

Saudara ketua, ibu-ibu dan bapak-bapak,

Tema pembicaraan sore ini "Apa Yang Dikatakan Injil Tentang Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tiada keraguan hal ini tentu mengejutkan kebanyakan Anda karena pembicara adalah seorang Muslim. Bagaimana bisa terjadi seorang Muslim menjelaskan secara terperinci ramalan kitab orang Yahudi dan Kristen?

Sebagai anak muda, sekitar 30 tahun yang lalu, saya menghadiri serangkaian ceramah keagamaan oleh seorang ahli ilmu agama kristen, yang terhormat Pendeta Hiten, pada "Theatre Royal", Durban.

Paus atau Kissinger?
Pendeta yang terhormat ini, menjelaskan secara terperinci ramalan-ramalan Injil. Ia terus membuktikan bahwa kitab Injil meramalkan kebangkitan Sovyet Rusia dan hari akhir. Pada satu tahap ia melanjutkan pembuktian lebih luas bahwa kitab sucinya tidak menghilangkan Paus dari ramalannya. Dengan penuh semangat ia berbicara panjang lebar untuk meyakinkan pendengarnya bahwa "Beast 666" yang disebutkan dalam kitab wahyu tersebut kitab terakhir dari Perjanjian Baru adalah Paus, pendeta Kristus dibumi. Tidak pantas bagi kita umat Islam untuk ikut dalam pertentangan anfara Katholik Roma dan Protestan ini. Tetapi, penjelasan terakhir orang Kristen mengatakan bahwa "Beast 666" pada kitab Injil adalah Dr. Henry Kissinger.

Sarjana-sarjana Kristen berlaku jujur dan tak kenal lelah dalam usahanya membuktikan kasus mereka.

Ceramah Pendeta Hiten membuat saya bertanya jika kitab Injil meramalkan banyak hal bahkan termasuk "Paus" dan "Israel"- maka tentunya harus ada sesuatu yang mengatakan tentang kedermawanan terbesar dari umat manusia Nabi suci Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam-.

Sebagai pemuda saya mulai mencari jawabannya: Saya menemui banyak pendeta, menghadiri ceramah dan membaca segala sesuatu yang dapat saya hubungkan dengan ramalan Injil. Malam ini saya akan menceritakan kepada Anda satu dari tanya jawab-tanya jawab ini dengan seorang dominee dari Gereja Reformasi Belanda.


Angka Keberuntungan 13
Saya diundang ke Transvaal untuk berbicara pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saya mengetahui bahwa di propinsi tersebut bahasa Afrika digunakan secara umum, bahkan oleh bangsa saya sendiri, saya merasa harus sedikit belajar bahasa ini, sehingga dapat merasa sedikit seperti di rumah sendiri dengan masyarakat tersebut. Saya membuka buku petunjuk telepon dan mulai menelpon para pembicara gereja Afrika. Saya menyatakan maksud saya kepada para pendeta bahwa saya tertarik berdialog dengan mereka, tetapi mereka semua menolak permintaan saya dengan permohonan maaf yang dapat diterima. Angka 13 adalah angka keberuntungan saya. Telepon ke 13 membuat saya merasa senang dan lega. Van Heerden, seorang dominee, setuju untuk bertemu saya di rumahnya pada Sabtu siang, sehingga saya harus pergi ke Transvaal.

Dominee menerima saya di Beranda dengan sambutan yang bersahabat, dan berkata jika saya tidak keberatan, ia akan senang jika ayah mertuanya yang berasal dari Free State (seorang pria tua berumur 70-an) bergabung dengan kami dalam diskusi. Saya tidak keberatan. Kami bertiga duduk di perpustakaannya. .

Mengapa Tidak Ada?
Saya mengajukan pertanyaan, "Apakah yang dikatakan Injil tentang Muhammad?"

Tanpa ragu-ragu ia menjawab, "Tidak ada!"

Saya bertanya, "Mengapa tidak ada? Berdasarkan penafsiran Anda Injil mengatakan banyak hal tentang kebangkitan Soviet Rusia dan tentang hari akhir, bahkan tentang Paus dari Katholik Roma?"

Dia berkata, "Ya, tetapi tidak ada tentang Muhammad!"

Saya bertanya lagi, "Mengapa tidak ada? Muhammad seorang yang bertanggungjawab membawa jutaan pengikutnya menjadi sebuah komunitas yang mendunia, yang dengan pengaruhnya, percaya pada:
1. Keajaiban kelahiran Yesus,
2. Bahwa Yesus adalah Mesias,
3. Bahwa dengan izin Tuhan, Ia dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta.

Tentunya kitab tersebut (Injil) mengatakan sesuatu tentang pemimpin besar manusia ini, yang berkata sangat baik tentang Yesus dan ibunya Maryam?" (Kesejahteraan untuk mereka berdua).

Orang tua dari Free State menjawab, "Anakku, saya telah membaca Injil selama 50 tahun lebih dan jika terdapat sesuatu yang menyinggung tentang Muhammad, saya akan mengetahuinya."

Tidak Ada Nama Itu
Saya bertanya, "Menurut Anda, bukankah di dalam Perjanjian Lama terdapat ratusan ramalan sehubungan dengan kedatangan Yesus".

Dominee menyela, "Bukan ratusan, bahkan ribuan!"

Saya berkata, "Saya tidak akan memperdebatkan 1001 ramalan di Perjanjian Lama sehubungan dengan kedatangan Yesus Kristus, karena umat Islam di seluruh dunia telah menerimanya tanpa perlu pembuktian dari ramalan Injil mana pun. Kami umat Islam secara defacto telah menerima Yesus dengan pengaruh Muhammad saja, dan saat ini di dunia terdapat tidak kurang dari 900.000.000 pengikut Muhammad yang mencintai, memuliakan dan menghormati utusan Tuhan yang besar ini -Yesus Kristus-tanpa perlu diyakinkan oleh umat Kristen melalui arti Injil dalam dialek bahasa mereka. Dari ribuan ramalan tersebut, dapatkah Anda menunjukkan satu saja ramaian yang menyebutkan nama Yesus? Istilah Mesias yang diterjemahkan Kristus adalah bukan nama tetapi sebuah sebutan. Adakah sebuah ramalan yang mengatakan bahwa nama Mesias akan menjadi Yesus dan nama ibunya akan menjadi Maria; bahwa yang seharusnya menjadi ayahnya adalah Yusuf si tukang kayu; bahwa ia akan lahir pada masa pemerintahan raja Hero dan lain-lain?

"Tidak! Tidak ada perincian seperti itu!" jawab Dominee.

Saya bertanya, "Lalu bagaimana Anda menyimpulkan bahwa ribuan ramalan tersebut mengacu kepada Yesus?"

Apakah Ramalan Tersebut?
Dominee menjawab, "Perhatikan, ramalan adalah kata-kata yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ketika hal itu terjadi, kita lihat secara nyata pemenuhan atas apa yang telah diperkirakan di masa lalu dalam ramalan-ramalan tersebut."

Saya berkata, "Apa yang sebenarnya Anda lakukan adalah bahwa Anda menyimpulkan, mencari alasan, menempatkan dua dan dua bersama-sama."

Dia berkata, "Ya."

Saya berkata, "Jika ini yang Anda lakukan dengan ribuan ramalan untuk membenarkan pendapat Anda tentang keaslian Yesus, mengapa kita tidak melakukan sistem yang sama untuk Muhammad? Dominee setuju hal tersebut adalah argumen yang adil, alasan yang dapat diterima dalam memperlakukan masalah tersebut.

Saya memintanya untuk membuka Ulangan, pasal 18, ayat 18 (kitab kelima dari kitab Yahudi dan Kristen). Saya membaca ayat tersebut berdasarkan ingatan dalam versi Afrika, dengan tujuan sedikit berlatih bahasa yang digunakan bangsa di Afrika Selatan tersebut.

'N Profeet Sal Ek Vir Hulle
Verwek Uit Die Midde Van Hulle Broers,
Soos Jy Is,
En Ek Sal My Woorde In Sy Mond Le,
En Hy Sal Aan Hulle Se
Alles Wat Ek Hom Beveel
Deut. 18:18

Terjemahannya sebagai berikut:
"Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya." (In-jil-Ulangan 18: 18)

Nabi Seperti Musa
Saya meminta maaf karena pelafalan yang tidak jelas dalam membacakan versi tersebut dalam bahasa Afrika. Dominee meyakinkan saya bahwa saya melakukannya dengan baik. Saya bertanya, "Kepada siapa ramalan tersebut ditujukan?"

Tanpa keraguan sedikit pun dia menjawab, "Yesus!"

Saya bertanya, "Mengapa Yesus, namanya tidak disebut di sini?"

Dominee menjawab, "Karena ramalan adalah kata-kata yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, kita temukan kata-kata dalam ayat ini cukup melukiskannya. Anda lihat, kata yang paling penting dari ramalan ini adalah Soos Jy Is (like unto thee), -seperti kamu- seperti Musa, dan Yesus seperti Musa.

Saya bertanya, "Dalam hal apa Yesus seperti Musa?"

Jawabannya adalah; "Pertama, Musa adalah seorang Yahudi dan Yesus juga seorang Yahudi; Kedua, Musa adalah seorang nabi dan Yesus juga seorang nabi -karena itu Yesus seperti Musa dan itu tepat sekali seperti yang dikatakan Tuhan kepada Musa- Soos Jy Is.

"Dapatkah Anda pikirkan persamaan-persamaan lain antara Musa dan Yesus?" tanya saya.

Dominee mengatakan ia tidak dapat memikirkan yang lain. Saya membalas, "Jika hanya dua kriteria ini saja untuk menentukan calon dalam ramalan pada Ulangan 18: 18, maka untuk kasus ini kriteria dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa pada kitab Injil: -Solomon, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes Pembaptis dan lain-lain, karena mereka semua juga seorang "Yahudi" dan "Nabi". Mengapa tidak menerapkan ramalan tersebut kepada salah satu nabi-nabi ini, dan mengapa harus Yesus? Mengapa kita harus menganggap yang satu ikan sementara yang lainnya unggas?" Dominee tidak menjawab.
Saya meneruskan, "Perhatikan, kesimpulan saya adalah Yesus hampir tidak seperti Musa, dan jika salah, saya akan senang jika Anda meluruskan saya."

Tiga Ketidaksamaan
Sambil berkata, saya memberi alasan kepadanya:

Pertama, Yesus tidak seperti Musa, karena, menurut Anda "Yesus adalah Tuhan", tetapi Musa bukanlah Tuhan. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dominee menjawab, "Ya."

Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!"

Kedua, menurut Anda "Yesus Mati Untuk Dosa-dosa Dunia", tetapi Musa tidak mati untuk hal tersebut. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dia menjawab lagi, "Ya."

Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!"

Ketiga, menurut Anda "Yesus Pergi Ke Neraka Selama Tiga Hari", tetapi Musa tidak masuk ke sana. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dia menjawab tanpa perlawanan, "Ya."

Saya menyimpulkan, "Karena itu Yesus tidak seperti Musat"

"Tetapi.:.," kata Dominee menyela.

Saya lanjutkan dulu, kataku, "ini semua bukanlah fakta yang sukar, kokoh dan nyata. Hal ini adalah persoalan keyakinan belaka di mana seorang awam dapat tersandung dan jatuh. Marilah kita diskusikan sesuatu yang sangat sederhana, sangat mudah, yang jika orang awam diundang untuk mendengar diskusi tersebut mereka tidak akan kesulitan mengikutinya, bagaimana?" Dominee sangat senang dengan usulan tersebut.

DELAPAN ARGUMEN YANG TAK TERBANTAH

1. Ayah dan Ibu
Musa mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Muhammad juga mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu, dan ayahnya bukan seorang manusia. Apakah hal ini benar?"

Dia berkata, "Ya."

Saya berkata, "Daarom is Jesus nie soos moses nie, maar Muhummed is soos moses!" artinya: "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa!" (Sejak saat ini pembaca akan menyadari bahwa saya menggunakan bahasa Afika hanya bertujuan untuk latihan. Saya harus menghentikan penggunaannya dalam penjelasan ini).

2. Kelahiran Ajaib
Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban istimewa. Dalam Kitab Matius 1: 18 "... sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus ..." Dan, Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan: "... bagaimana hal itu mungkin terjadi, sedangkan aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinnggi akan menaungi engkau...." (Lukas l: 34-35).

Kitab Suci Al-Qur'an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria: "Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?"Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah" lalu jadilah dia."(QS. Ali Imran: 47). Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendakinya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus. (Ketika sayamembandingkan versi Al-Qur'an dan Injil tentang kelahiran Yesus kepada pendeta Dunkers, pemimpin masyarakat penginjil, di kota terbesar kami ini, dan ketika saya bertanya, "Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur'an atau Injil?"

Pria tersebut menundukkan kepalanya dan menjawab, "Versi Al-Qur'an."
Dengan cepat saya berkata kepada Doominee, "Apakah benar kelahiran Yesus yang ajaib berlawanan dengan kelahiran Musa dan Muhammad yang alami?"

Dia menjawab dengan bangga, "Ya!"

Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa tetapi Muhammad seperti Musa".

Dan, Tuhan berkata kepada Musa pada Ulangan 18: 18 "Like unto thee" (Seperti kamu, seperti Musa) dan Muhammad seperti Musa.


3. Ikatan Perkawinan
Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dominee menjawab: "Ya."

Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa"

4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya
Musa dan Muhammad diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Orang-orang Arab juga membuat kehidupan Muhammad menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda'wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya.

Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara keseluruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah. Tetapi berdasarkan Injil - "Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya." (Yohanes 1: 11). Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya orang-orang Yahudi, secara keseluruhan telah menolaknya. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dominee berkata, "Ya."

Saya berkata; "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."

5. Kerajaan "Dunia Lain"
Musa dan Muhammad adalah nabi dan juga raja. Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk menunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambahan atau pengurangan. Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan atas hidup dan mati rakyatnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mahkota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemukan sedang mengumpulkan kayu bakar, dan Musa menghukum mati orang tersebut dengan dilontari batu? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitujuga Muhammad, beliau memiliki kekuasaan atas hidup dan mati kaumnya. Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk menerapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus juga termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret sebelum Gubernur Roma (Pontius Pilate) menuduhnya sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yang salah:

"Jawab Yesus, 'Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. " (Yohanes 18: 36). Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahannya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dominee menjawab, "Ya."

Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."

6. Tak Ada Hukum Baru
"Musa dan Muhammad membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel, tetapi hukum-hukum peribadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Muhammad datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam Decline and Fal1 of the Roman Empire (artinya: Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi.), "Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan." Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia.

Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad meng-angkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlysle, "Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya. Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia... " Kenyataannya adalah Muhammad memberikan kaumnya sebuah hukum dan peraturan yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya.

Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu dengan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, 'Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi'. "(Matius 5: 17-18).

Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan agama baru kepada mereka. Tidak! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan agama Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, dan menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, "Mengapa kamu tidak puasa" atau "Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti". Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah bertentangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang men-dahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muhammad.

"Apakah hal ini benar?" Saya bertanya kepada Domi-nee.

Dan, ia menjawab, "Ya."

Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa."

7. Bagaimana Mereka Pergi
Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

Dominee menjawab, "Ya."

Saya menegaskan, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa." .

8. Surga Sebagai Tempat Kediaman
Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut Anda, Yesus beristirahat di surga. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee. Dominee setuju.
Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa."

Dari buku “THE CHOICE” AHMAD DEEDAT

Read More..

Monday, April 23, 2007

Ashabul Kahfi

PARA PENGHUNI GOA
PARA PENGHUNI GOA
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu, mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan.” (QS. Al Kahfi, 18: 9) !
Surat ke-18 Al Quran yang dinamakan “Al Kahfi” yang berarti “gua”, menceritakan tentang sekelompok pemuda yang berlin-dung di sebuah gua untuk bersembunyi dari penguasa yang meng-ingkari Allah dan melakukan penindasan dan ketidakadilan atas mereka yang beriman. Ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini adalah sebagai berikut :
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu, mereka termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurna-kanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, ke-mudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung bera-pa lamanya mereka tinggal (di dalam gua itu). Kami menceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesung-guhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesung-guhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemuka-kan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mere-ka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang ber-guna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang me-reka dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling berta-nya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?”. Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah satu orang di antara ka-mu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal-mu kepada seorang pun.
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya me-reka akan melempar kamu dengan batu atau memaksamu kembali kepada agama mereka dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”
Dan demikianlah (Kami) mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah ba-ngunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mere-ka) adalah tiga orang, yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang, yang ke-enam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bi-langan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Mu-hammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemu-da itu) kepada seorang pun di antara mereka.
Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu; “Se-sungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petun-juk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. Dan mere-ka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Katakanlah: ”Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka ting-gal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pen-dengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya, dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi seku-tu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi, 18: 9-26) !
Menurut kepercayaAn yang umum, para Penghuni Gua yang dipuji baik oleh sumber Islam maupun Nasrani, adalah korban dari tirani yang kejam dari Decius, kaisar Romawi. Karena menghadapi penindasan dan kesewenang-wenangan Decius, para pemuda ini memperingatkan kaum-nya berulang kali untuk tidak meninggalkan agama Allah. Ketidakacuh-an kaum mereka terhadap penyampaian risalah tersebut, meningkatnya penindasan kaisar, dan ancaman pembunuhan terhadap mereka, mem-buat mereka meninggalkan tempat tinggal mereka.
Sebagaimana dibenarkan dokumen-dokumen sejarah, pada saat itu, banyak kaisar yang melaksanakan kebijakan teror, penindasan dan kese-wenang-wenangan secara meluas terhadap mereka yang memegang agama Nasrani yang awal dalam bentuknya yang asli dan murni.
Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, ia merujuk sekelompok Messiah (Nasrani) yang dihukum karena menolak menyembah patung kaisar. Surat ini adalah salah satu dokumen terpen-ting yang menyebutkan penindasan yang menimpa orang-orang Nasrani pada masa awalnya. Dalam situasi demikian, para pemuda ini, yang diperintahkan untuk tunduk kepada sistem yang non-agamis dan untuk menyembah kaisar sebagai tuhan selain Allah, tidak menerima ini dan berkata:
“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al Kahfi, 18: 14-15) !
Sehubungan dengan daerah tempat tinggal Para Penghuni Gua, ter-dapat beberapa pandangan yang berbeda. Di antaranya yang paling bisa diterima akal adalah daerah Ephesus dan Tarsus.
Hampir semua sumber Nasrani menunjuk Ephesus sebagai lokasi dari Gua tempat para pemuda beriman ini berlindung. Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Al Quran bersepakat dengan kaum Nasrani ten-tang Ephesus. Beberapa lainnya, menerangkan dengan terperinci bahwa tempat itu bukanlah Ephesus, dan kemudian berusaha untuk membukti-kan bahwa kejadiannya adalah di Tarsus. Dalam penelitian ini, kedua alternatif ini akan dibahas. Walau begitu, semua peneliti dan pengamat, termasuk kalangan Kristen mengatakan bahwa kejadian tersebut berlang-sung pada masa Kaisar Romawi Decius (disebut juga sebagai Decianus) sekitar tahun 250 M.
Decius, bersama dengan Nero, dikenal sebagai kaisar Romawi yang menyiksa kaum Nasrani dengan amat kejam. Dalam masa pemerintahan-nya yang singkat, ia mensahkan suatu hukum yang memaksa semua orang di bawah kekuasaannya untuk melakukan persembahan terhadap dewa-dewa Romawi. Setiap orang diwajibkan untuk melakukan persem-bahan ini dan lebih jauh lagi, mendapatkan sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melakukannya, yang harus mereka tunjukkan kepa-da petugas pemerintahan. Mereka yang tidak patuh akan dihukum mati. Dalam sumber-sumber Nasrani, dituliskan bahwa sebagian besar kaum Nasrani menolak tindakan musyrik ini dan melarikan diri dari “satu kota ke kota lain”, atau bersembunyi di perlindungan rahasia. Para Penghuni Gua kemungkinan besar adalah salah satu kelompok di antara kaum Nasrani awal ini.
Sementara itu, ada satu poin yang harus ditekankan di sini: Topik ini telah diceritakan dalam bentuk cerita oleh sejumlah ahli sejarah dan peng-amat Islam dan Kristen, dan berubah menjadi legenda akibat penambah-an banyak kepalsuan dan kabar burung. Namun demikian, kejadian ini adalah suatu kenyataan sejarah.
Apakah Para Penghuni Gua Ada di Ephesus?
Bersangkutan dengan kota tempat tinggal para pemuda ini dan gua tempat mereka berlindung, beberapa tempat ditunjukkan dalam berbagai sumber yang berbeda. Alasan utama untuk ini adalah: orang-orang ingin mempercayai bahwa orang-orang yang berani dan teguh hati seperti itu hidup di kotanya, dan sangat miripnya gua-gua di daerah tersebut. Seba-gai contoh, hampir di semua tempat ini terdapat tempat peribadatan yang katanya dibangun di atas gua.
Sebagaimana dikenal luas, Ephesus dianggap sebagai sebuah tempat suci bagi orang Nasrani, karena di kota tersebut ada sebuah rumah yang katanya dimiliki Perawan Maria dan kemudian berubah menjadi sebuah gereja. Jadi sangatlah mungkin bahwa para Penghuni Gua pernah hidup di salah satu di antara tempat-tempat suci tersebut. Bahkan, beberapa sumber Nasrani menyatakan kepastiannya bahwa itulah tempatnya.
Sumber tertua tentang hal ini adalah pendeta Syria bernama James dari Saruc (lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka, Gibbon, banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi). Menurut buku ini, nama kaisar yang menyiksa ketujuh pemu-da Nasrani yang beriman tersebut dan memaksa mereka bersembunyi di dalam gua, adalah Decius. Decius memerintah Kekaisaran Romawi antara tahun 249-251 M dan masa kekuasaannya dikenal luas dengan penyiksaan yang ia lakukan terhadap para pengikut Isa (Jesus). Menurut para pengamat Islam, daerah tempat terjadinya peristiwa itu adalah “Aphesus” atau “Aphesos”. Menurut Gibbon, nama tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia, kota ini merupakan salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari kekaisaran Romawi. Saat ini, reruntuh-an kota ini dikenal sebagai “Kota Antik Ephesus”.
Nama kaisar yang memerintah di masa para Penghuni Gua terba-ngun dari tidur mereka yang panjang adalah Tezusius menurut para peneliti Muslim, dan Theodosius II menurut Gibbons. Kaisar ini meme-rintah antara tahun 408-450 M, setelah kekaisaran Romawi berubah memeluk agama Nasrani.
Dengan merujuk kepada ayat di bawah ini, dalam beberapa tempat disebutkan bahwa pintu masuk gua menghadap ke utara, sehingga sinar matahari tidak dapat masuk. Dengan demikian, orang yang melewati gua tidak dapat melihat sama sekali apa yang ada di dalamnya. Ayat Al Quran yang berkaitan dengan hal ini mengatakan :
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi, 18: 17) !
Ahli Arkeologi Dr. Musa Baran menunjuk Ephesus sebagai tempat kelompok pemuda beriman ini hidup, dalam bukunya yang berjudul “Ephesus”, ia menambahkan:
Di tahun 250 SM, tujuh orang pemuda yang hidup di Ephesus memilih untuk memeluk Nasrani dan menolak keberhalaan. Saat mencoba untuk mencari jalan keluar, para pemuda ini menemukan sebuah gua di lereng timur Gunung Pion. Tentara Romawi melihat ini dan membangun dinding di pintu gua tersebut. 45
Saat ini, diketahui bahwa di atas reruntuhan tua dan kuburan ini ba-nyak didirikan bangunan religius. Penggalian yang dilakukan oleh Instit-ut Arkeologi Austria pada tahun 1926 mengungkapkan bahwa reruntuh-an yang ditemukan di lereng timur Gunung Pion berasal dari bangunan yang didirikan atas nama para Penghuni Gua di pertengahan abad ke-7 (selama pemerintahan Theodosius II). 46
Apakah Para Penghuni Gua Ada di Tarsus ?
Tempat kedua yang diajukan sebagai tempat Penghuni Gua pernah hidup adalah Tarsus. Memang, terdapat sebuah gua yang mirip dengan gua yang disebutkan dalam Al Quran, yang terletak di sebuah gunung yang dikenal sebagai Encilus atau Bencilus, di Barat Laut Tarsus.
Gagasan bahwa Tarsus adalah tempat yang tepat adalah pandangan dari banyak ilmuwan Islam. Salah seorang ahli tafsir Al Quran terkemu-ka, Ath-Thabari menetapkan bahwa nama gunung tempat gua tersebut berada adalah “Bencilus” dalam kitabnya yang berjudul “Tarikh Al Umam, dan menambahkan bahwa gunung ini terletak di Tarsus.47
Juga, ahli Tafsir Al Quran lain bernama Muhammad Amin menyata-kan bahwa nama gunung tersebut adalah “Pencilus” dan berada di Tarsus. Nama yang diucapkan sebagai “Pencilus” kadangkala diucapkan sebagai “Encilus”. Menurutnya, perbedaan antar kata-kata itu disebab-kan perbedaan pengucapan huruf “B” atau oleh hilangnya huruf dari kata aslinya, yang disebut dengan “abrasi kata-kata historis”.48
Fakhruddin Ar-Razi seorang ulama Al Quran terkenal lainnya, men-jelaskan dalam karyanya bahwa “meskipun tempat ini disebut Ephesus, tujuan dasarnya di sini adalah untuk mengatakan Tarsus, karena Ephesus hanyalah nama lain dari Tarsus”. 49
Sebagai tambahan, dalam Tafsir Qadi Al Baidhawi dan An-Nasafi, dalam Tafsir Al Jalalain dan At-Tibyan, dalam komentar dari Elmali dan O. Nasuhi Bilman, dan banyak ulama lainnya, tempat ini ditunjuk sebagai “Tarsus”. Di samping itu, semua ahli tafsir ini menerangkan bahwa kalimat dalam ayat 17, “matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri” dengan mengatakan bahwa mulut gua di pegunungan menghadap ke utara. 50
Tempat tinggal Para Penghuni Gua juga menjadi pokok perhatian pa-da masa kekaisaran Turki Utsmani dan sejumlah penelitian dilakukan terhadap hal ini. Terdapat beberapa korespondensi dan pertukaran infor-masi tentang hal ini dalam arsip kementerian Utsmani. Sebagai contoh, dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada Penguasa Perbendaharaan Negara Turki oleh pemerintahan lokal Tarsus, ada sebuah permintaan resmi dan lampiran yang menyebutkan permintaan mereka untuk mem-beri gaji kepada orang-orang yang berurusan dengan pembersihan dan pemeliharaan gua Ashabul Kahfi (Para Penghuni Gua). Jawaban terhadap surat ini menyatakan bahwa agar gaji para pekerja itu bisa diambil dari perbendaharaan negara, perlu diselidiki apakah gua ini benar-benar tem-pat Para Penghuni Gua pernah berada. Penelitian yang dilakukan untuk tujuan ini sangat berguna dalam penentuan letak sebenarnya dari gua tersebut.
Dalam laporan yang dipersiapkan setelah suatu penyelidikan yang dilakukan oleh Dewan Nasional, dinyatakan: “Di sebelah utara Tarsus, sebuah propinsi Adana, terdapat sebuah gua di sebuah gunung yang dua jam jauhnya dari Tarsus, dan mulut gua tersebut menghadap ke utara sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran.”51
Perdebatan yang berkembang tentang siapa para Penghuni Gua, di mana dan kapan mereka hidup, selalu mengarahkan pihak berwenang untuk mengadakan penelitian terhadap hal ini dan banyak komentar di-buat tentang hal ini. Namun belum satu pun komentar-komentar ini da-pat dipertimbangkan pasti, sehingga pertanyaan seperti: Pada periode mana para pemuda yang beriman ini hidup dan di mana gua yang dise-butkan dalam ayat-ayat tersebut, tetap ada tanpa jawaban yang menda-sar.
Bagian dalam dari gua di Ephesus yang dianggap sebagai gua yang ditempati Para Penghuni Gua.
Gua di Ephesus tampak dari luar.
Gua di Tarsus yang diduga ditempati Para Penghuni Gua

Read More..