Showing posts with label astronomi. Show all posts
Showing posts with label astronomi. Show all posts

Sunday, January 25, 2009

Enam Bukti Adanya Alien

INILAH.COM, Jakarta - Astronom senior di SETI Institute yang merupakan lembaga resmi AS yang meneliti soal UFO, Seth Shostak menunjukkan enam bukti bahwa alien benar-benar ada.
Keberadaan bintang dalam jumlah besar merupakan bukti adanya kehidupan alien. Shostak mengakui, memang belum ada bukti langsung, mengenai keberadaan kehidupan di luar bumi.
Tapi galaxi memiliki bintang dalam jumlah yang sangat banyak. Dan penelitian selama beberapa dekade terakhir mendapati 90% bintang itu memiliki planet.
Shostak memperkirakan ada 1 miliar planet di galaxi Bimasakti saja. Dan mungkin saja beberapa diantaranya berkembang seperti yang terjadi di bumi. “Jika kita satu-satunya yang ada di galaxi, kita benar-benar sebuah berkah,” katanya.
Keberadaan air di sistem tata surya juga merupakan petunjuk adanya alien. Air merupakan sumber kehidupan utama. Dan air makin banyak ditemukan di sistem tata surya.
Sebagai contoh, cairan ditemukan di Mars dan di bulan. Bahkan Yupiter juga terlihat memiliki lautan. Termasuk Venus juga memiliki sedikit air di atmosfernya.
Kehidupan yang berkembang cepat di bumi sejak terbentuknya juga sebagai indikasi adanya alien. Ilmuwan memperkirakan planet bumi sudah berumur 4,5 miliar tahun. Bukti tertua kehidupan sudah muncul 3,4 miliar tahun, berupa bakteri yang disebut stromatolites di Australia. Karena bakteri merupakan bentuk biologi yang komplek, ilmuwan berpendapat kemunculan bentuk kehidupan bisa lebih awal lagi.
Bukti lain adanya alien adalah bahwa kehidupan dapat bertahan di lingkungan yang esktrem. Hampir di manapun di muka bumi, kita bisa menemukan kehidupan. Di tempat dingin, kegelapan lautan, di pipa-pipa pembangkit listrik panas bumi, terkubur di bawah es di antartika atau di tempat sanagt kering di gurun Atacama terdapat kehidupan.
"Kehidupan dapat beradaptasi dengan berbagi macam keadaan yang ekstrem, dan tentu saja hampir semua galaxi akan dipenuhi habitat yang tangguh,” kata Shostak.
Sebagai contoh, Mars memiliki lingkungan yang keras, tetapi beberapa mikroba yang ditemukan di bumi bisa hidup di planet merah.
Petunjuk lain adanya ET adalah adanya penggilan dari jarak jauh. Ilmuwan masih terus mencari tahu sinyal yang terdeteksi pada 15 Agustus 1977 oleh Big Ear Observatory , Ohio University. "Itu cukup impresif karena menghasilkan tulisan 'Wow!' di layar," kata Shostak.
Penelitian selanjutnya terus dilakukan untuk mendeteksi ulang sinyal itu, tapi gagal. "Apakah itu ET dan kemudian menghilang kita semua tidak tahu," kata Shostak.
Beberapa orang yang mengaku telah bertemu dengan alien juga bisa sebagai petunjuk. Untuk membuktikan ucapannya, saksi mata ini bahkan menunjukkan foto obyek terbang atau bekas pendaratan.
Tapi bukti seperti itu sulit yang masih belum terkontaminasi. Shostak mencontohkan lokasi yang disebut-sebut UFO telah jatuh pada 60 tahun lalu, terus menarik kunjungan turis di Roswell NM. Tapi loaksi itu palsu dan alien disimpan di museum hanya untuk daya tarik turis saja.[ito]

Read More..

Teori Big Bang Diragukan

Teori Big Bang Diragukan : Semesta Tak Memiliki Awal dan Akhir
bbcnews/AP/san
Apa yang bakal terjadi jika teori Big Bang itu ternyata salah" Bagaimana jika ternyata semesta tidak pernah memiliki awal dan akhir" Dua ahli fisika, yakni Paul Steinhardt dari Princeton University dan Neil Turok dari Cambridge University memunculkan pertanyaan ini lewat konsep baru yang mereka tawarkan.
Teori Big Bang, selama beberapa dekade, dipercaya memberikan penjelasan paling masuk akal tentang kelahiran alam semesta. Teori ini menerangkan bahwa semesta lahir sekitar 14 miliar tahun lalu lewat dentuman besar entitas zat dan energi.
Segera setelah ledakan pertama tersebut, semesta meluas dengan cepat, dalam sebuah fenomena yang disebut para astronom sebagai inflasi. Proses perluasan semesta berlanjut dengan periode sangat singkat dan pendinginan sangat cepat, diikuti dengan ekpansi yang lebih tenang. Big Bang menjadi awal pembentukan ruang dan waktu.
Tapi model tersebut, dalam kaca mata Steinhardt dan Turok, memiliki beberapa kekurangan. Model tersebut tidak dapat menerangkan apa yang terjadi sebelum Big Bang dan menjelaskan hasil akhir dari semesta.
Akhir Teori Big Bang
Steinhardt dan Turok dari Cambridge, dalam laporan di jurnal Science, menguraikan bahwa Big Bang hanyalah salah satu bagian dari pembuatan semesta, tapi bukan pelopor dari kelahiran semesta. Ia hanya bagian kecil dari proses pembentukan semesta yang tidak memiliki awal dan akhir.
Sehingga penentuan umur semesta, yang muncul dari teori Big Bang, merupakan kesimpulan mengada-ada. Penambahan dan penyusutan semesta terjadi secara terus-menerus, berlangsung bukan dalam miliar tapi triliunan tahun.
"Waktu tidak mesti memiliki awal," ujar Steinhardt dalam wawancara telepon dengan Associated Press. Ia mengatakan bahwa teori waktu sebenarnya hanya transisi atau tahap evolusi dari fase sebelum semesta ada ke fase perluasan semesta yang ada saat ini.
Para ilmuwan yang menyokong teori Big Bang melihat ekspansi semesta ditentukan oleh sejumlah energi yang memperlambat dan mempercepat ekspansi. Energi yang memperlambat ekspansi ini kemudian bergerombol dalam galaksi, bintang dan planet. Energi yang mempercepat ekspansi ini diistilahkan sebagai "energi gelap".
Namun Steinhardt dan Turok melihat bahwa materi semesta tidak sekadar terdiri dari energi biasa dan "energi gelap", tapi juga "spesies ketiga". "Kami melihat rasio energi yang membentuk semesta adalah 70 persen materi unik dan 30 persen materi biasa," ujar Steinhardt.
Materi biasa yang dimaksud Steinhardt adalah materi yang membuat ekspansi semesta lebih pelan, yang mengijinkan gravitasi menciptakan galaksi, bintang dan planet, termasuk bumi.
Sementara percepatan ekspansi didorong oleh "energi gelap" yang menyatukan sejumlah zat dan energi. "Energi ini, sekali mengambil alih semesta, mendorong segala seuatu pada pusat percepatan. Sehingga semesta akan berukuran dua kali lipat setiap 14 hingga 15 miliar tahun sepanjang ada energi gravitasi yang mendominasi semesta," ujar Steinhardt.
Dentuman besar muncul ketika "energi gelap" mengubah karakter ini. Dengan alasan inilah, kedua ilmuwan fisika tersebut menolak menerima argumen bahwa Big Bang merupakan penyebab kelahiran alam semesta. Karena semesta sudah ada sebelum dentuman itu terjadi.
Penulis kosmologi Marcus Chown Concedes mengakui pembuktian model semesta memang rumit. Ia bahkan mengatakan sejarah semesta adalah sejarah kesalahan kita sebagai manusia.
Karena kita hendak menyelidiki materi yang luar biasa besar, sementara kita hanya bisa duduk di sebuah planet kecil yang menjadi bagian dari materi tersebut.
Sumber : Sinar Harapan (29 April 2002)

Read More..