Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Saturday, May 16, 2009

Topeng....


Tapi buka dulu topengmu….
Penggalan dari lagu Peterpan di atas terkadang membuat saya terlontar jauh ke dalam sebuah situasi yang cukup kondusif untuk merenung, tak peduli dimanapun saya kebetulan mendengarnya. Apakah itu di atas bus kota yang sedang melaju kencang di jalanan Jakarta, dari tape butut di pojok kamar saya, dari computer butut sy yang sekarang telah berpindah tangan, bahkan dari toko-toko kaset di saat saya sedang berjalan di pasar.
Buka dulu topengmu…..sadar atau ga sadar, banyak dari kita yang lebih nyaman dengan topeng-topeng yang seakan tak pernah lepas dari wajah kita. Ada yang hanya membutuhkan satu topeng, dan tak sedikit yang memakai bermacam topeng yang tentunya digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Dan rasanya jarang yang tidak membutuhkan topeng untuk menutupi kekotoran wajahnya.
Paling tidak, topeng-topeng tersebut digunakan untuk menutupi rahasia-rahasia terpendam yang jauh ditanam di lubuk hati yang terdalam. Nyaris hanya dia dan Tuhan yang tahu, plus mungkin 2 malaikat kiri kanan yang setia mencatat segala macam amal.
Sehingga, bisa dikatakan bahwa wajah asli seseorang hanya dimunculkan ketika ia merasa benar-benar sendiri di kamar yang terkunci, saat ketika ia bisa mengekspresikan diri tanpa harus takut dilihat oleh orang lain. Sementyara di luar itu, aneka topengpun telah siap digunakan.
Topeng yang dipakai ketika menghadapi orang tua, topeng untuk berhadapan dengan dosen, topeng khusus untuk bergaul, topeng ketika berhadapan dengan masyarakat…dan topeng-topeng lain. Satu hal yang mungkin luput dari perhatian para manusia bertopeng adalah bahwa topeng-topeng tersebut tak pernah cukup untuk menyembunyikan wajahnya di hadapan Pencipta. Dan sebanyak apapun topeng yang digunakan, bagiNYA wajah asli lah yang tetap terlihat. Dan biasanya kebanyakan kita tidak terlalu peduli dengan ini, karena toh sang Tuhan tak terlihat, gaib, entah dimana, karena itu sering "dianggap" tidak ada, dan atas dasar inilah kemudian tak pernah merasa perlu memikirkan topeng apa yang harus digunakan ketika berhadapan denganNYA.
Sunggu hebat dan bukan sebuah kebetulan apabila di pembukaan surat al-baqarah, ketika mendeskripsikan orang-orang yg bertakwa, Allah memulainya dengan "mereka yang beriman kepada yang ghaib" karena memang seluruh rukun iman yang ada semuanya berhubungan dengan yang ghaib, dan ketika keimanan kepada yang ghaib tadi benar-benar menghunjam ke dalam hati manusia, maka saat itu dia tidak lagi memerlukan topeng bagi wajahnya.
Dan tampaknya, topeng menjadi satu hal yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari manusia. Jadi jangan heran kalau tiba-tiba seorang kawan yang anda anggap begitu dekat dengan anda mampu menampilkan topeng lain yang sama sekali baru bagi anda ketika berhadapan dengan orang lain yang mungkin memberikan pengaruh yang cukup besar bagi nya. Atau seorang yang selama ini anda anggap begitu jahat, ternyata mampu menutupi kejahatan itu dengan sebuah topeng kebaikan, sebuah topeng yang dihiasi dengan senyum ketulusan.
Atau, secara sederhana mungkin setiap kita bisa merenung dan memikirkan kembali tentang topeng-topeng yang sering kita gunakan. Topeng yang kita tampilkan di saat berada di tengah-tengah keluarga di rumah, dan kemudian secara otomatis berganti ketika kita mendapatkan diri kita 'sendiri' di rumah sendiri, kemudian berganti lagi dengan topeng lain di saat berada di lingkungan kampus, topeng saat berada di dunia maya, dan topeng-topeng lain yang saling bergantian secara otomatis dengan hebat.
Pola hidup bertopeng ini kemudian banyak melahirkan sikap-sikap khas munafik di tengah masyarakat, dan sepertinya ketika setiap situasi dihadapi dengan topeng yang berbeda, maka kemunafikan seolah menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari.
Lalu akhirnya muncullah sebuah masyarakat bertopeng, dan dalam lingkup yang lebih besar timbullah sebuah negara topeng.....dan ketika semuanya tertutup oleh topeng, secara otomatis nilai kejujuran pun menghilang....ga salah kalo ciri pertama orang munafik adalah "hobi ngibul"....lalu, kebaikan macam apa yang diharapkan dari masyarakat yang minus kejujuran?? Kemajuan macam apa yang didamba dari bangsa yang kehilangan kejujuran di balik topeng2 mereka..??
So, untuk menghilangkan kebiasaan bertopeng dari sebuah bangsa, maupun dari sebuah komunitas masyarakat bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan perjuangan yang luar biasa melelahkan dan kontinyu.....dan tentunya segala sesuatu dimulai dengan langkah pertama...sejauh apapun perjalanan selalu dimulai dengan ayunan kaki yang pertama....jadi, kenapa tidak kita mulai langkah awal itu dengan menyingkirkan topeng dari wajah kita sendiri...???
KDI 106/03/1
17:18 sore waktu Tripoli

Read More..

catatan seorang pramugari...


Di bawah ini ada sebuah kisah yang sy dapat dari sebuah forum dan mudah2an dapat menjadi pelajaran, sebuah kisah yang dapat membuat kita lebih bersyukur, merubah cara pandang terhadap orang lain menjadi lebih baik, dan bahwa pelajaran kehidupan dapat didapat dimana saja dan dari siapa saja.....bahkan di saat, maupun dari orang yang tak terduga.....kita dengarkan penuturan seorang pramugari sbb :
Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.


Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.

Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
so, seringkali sebuah rutinitas yg kita anggap amat biasa dan bahkan cenderung membosankan menjadi demikian luar biasa bagi orang lain....
saat menjadi temus haji 2007, seorang bapak yg berasal dari sebuah daerah transmigrasi di sumatra (sy lupa sumatra mana) mengungkapkan penghargaan yang dalam kepada kami yang saat itu memberikan pelayanan (bertugas) dan mau menemaninya "ngobrol2 ringan" di waktu luang saat berada di hotel menjelang kepulangannya ke tanah air...dia sangat berterima kasih karena kami yang dianggapnya orang berpendidikan dan "hebat" di matanya (padahal kita sama sekali tidak merasa hebat) mau ngobrol2 bertukar cerita dan pengalaman dengannya yg hanya "orang kampung" yang buta huruf dan tidak berpendidikan......padahal tanpa disadarinya saat itu kami justru mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang "perjuangan hidup yang tak kenal lelah dan kesabaran beliau dalam berusaha sehingga cukup berhasil menghidupi keluarganya di daerah transmigrasi tersebut.....
dan seringkali di saat kita merasa terlalu berat untuk bersyukur, bahkan merasa kehilangan sebab yang bagus untuk bersyukur, Allah mengirimkan sinyal-sinyal dan pelajaran dari arah yg tak terduga yang mengingatkan kita ttg betapa beruntungnya kita, dan betapa kufurnya kita akan nikmat yang terlalu sering kita lupakan.......

Read More..

Saturday, February 21, 2009

Tawadhu' dan Etika menyampaikan kritik

Salah atu ciri khas seorang alim (yg berilmu) adalah sifat tawadhu'. sehingga semakin tinggi ilmu seseorang semakin tinggi pula tingkat ketawadhuannya, dan di sisi lain akan semakin tinggi pula pengakuan dan penghormatan yang diberikan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Karna itu mungkin sejak lama di negara kita orang mengenal istilah "ilmu padi" dimana semakin tinggi dia tumbuh akan semakin menunduk. juga pepatah yang mengatakan "tong kosong nyaring bunyinya". ga salah kalo dimana-mana sifat rendah hati selalu diajarkan kepada anak2 di sekolah-sekolah, pesantren-pesantren dan selalu diulang-ulang di mimbar-mimbar masjid. intinya, sifat tawadhu' penting dan sangat penting..

Sifat ini tidak bisa dibuat-buat, dia tumbuh dengan adanya kesadaran dan adanya pengendalian diri yang tinggi..karna mereka yang tidak bisa mengendalikan nafsu "takabbur" yang memenuhi hatinya ga akan bisa memunculkan aura tawadhu' ini, bahkan walaupun dia sudah berusaha membungkuk2kan diri ketika berjalan atau menunduk2 misalnya. karna ketika sifat takabbur tadi sudah menguasai diri, dia akan senantiasa mengalahkan sikap tawadhu'.

Sebuah contoh kecil, seseorang yang pernah menjadi dosen misalnya di sebuah universitas yang katanya menjunjung tinggi kebebasan berfikir sehingga otomatis para mahasiswa nya pun akan lebih "open minded" dibanding mereka yang berada di timur tengah....khususnya mungkin di libya ini (katanya)..nah dengan latar belakang yang demikian mungkin akan timbul suatu sikap takabbur tadi yang terefleksi dari tulisan-tulisan yang saya rasa sangat menginjak-injak dan sangat tidak mungkin ditulis oleh mereka yang menganggap diri terpelajar!!

Tapi seperti saya katakan tadi, fenomena "takabbur" tadi dan tidak adanya sifat tawadhu' dalam bersikap menunjukkan dengan jelas sampai dimana tingkat keilmuan yang dimiliki seseorang...ingat ilmu padi yang baru saya sebutkan di atas..?? satu hal yang mungkin menjadi pertanyaan bagi saya adalah, apakah kesalahan fatal yang di buat oleh para mahasiswa disini kepada beliau tersebut misalnya sehingga sikap yang muncul dari beliau yang terhormat dan berilmu tadi begitu penuh dengan unsur "dendam"...? (hal ini tercermin di setiap tulisan beliau tentang mahasiswa libya)

Setiap tempat mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. semua orang tanpa harus menjadi dosen di universitas paling canggihpun akan menyadari ini. sehingga sangat tidak adil ketika suatu hal dikritik dan bahkan dicerca sedemikian rupa seolah tiada sedikitpun kebaikan di sana. sebagai contoh perbandingan, saya ambil perbandingan mahasiswa Libya dengan Mesir (karna hal ini pernah menjadi bahan perbandingan di salah satu tulisan tentang "kelemahan" mahasiswa Libya). Kawan-kawan di mesir lebih beruntung dengan aktifitas keilmuan yang banyak (seperti seminar-seminar, diskusi, aneka pelatihan de el el, dan suasana keterbukaan yang tidak dimiliki oleh mahasiswa libya. namun disisi lain apakah dengan begitu sisi keilmuan mahasiswa libya jauh tertinggal? saya berani menjawab dengan pasti, TIDAK. Dalam kasus-kasus seperti ini kita tidak bisa memakai kata "seluruh". Kalau per personal mungkin ada yang lebih baik dan juga ada yang lebih buruk....ini berlaku ketika membuat perbandingan antara universitas manapun.
Toh sebelum berangkat ke libya banyak kawan-kawan yang sudah malang melintang di aktifitas-aktifitas luar dan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang tentunya tidak kalah dengan aktifitas pemikiran mahasiswa mesir. Sehingga terdengar aneh di telinga saya ketika ada yang menganggap bahwa mahasiswa Libya (tanpa ada redaksi pengecualian) sangat terbelakang. Kalaupun ingin mengkritik mahasiswa Libya dari sisi ini saya rasa ada cara yang jauh lebih baik dan terpuji yaitu misalnya dengan mengatakan bahwa "sebagian" mahasiswa Libya kurang bahkan tidak pernah sama sekali mendapatkan aktifitas keilmuan di luar kampus sehingga kurang merangsang aktifitas berfikir mereka sebagai mahasiswa, tentunya dengan menyebutkan pebedaan kondisi libya dengan mesir misalnya, dan tanpa memberikan kesan bahwa sama sekali tidak ada kebaikan ataupun segi-segi hal yang pantas dibanggakan.

Dari segi lain, kita ambil misalnya dari perkuliahan, apakah mahasiswa disana juga lebih baik dari mahasiswa disini? Sehingga kemudian ada yang menganggap "pokoknya mahasiswa mesir jauh lebih baik dan mahasiswa libya ga bisa apa-apa....pokoknya tertinggal jauh......(kalau sudah begini susah). toh banyak mahasiswa di mesir yang seolah tidak kuliah karna sibuk dengan aktifitas di luar kuliah...bahkan banyak dari mereka misalnya yang kemampuan bahasa nya tidak menunjukkan kemajuan karna selalu bergaul dengan sesama mahasiswa indonesia dan sangat jarang mengikuti kuliah....tapi apakah kita harus megeneralissasi bahwa seluruh mahasiswa mesir ga becus berbahasa arab?? pasti tidak.

Seorang kawan yang saat ini berada di mesir pernah bercerita bahwa ketika ia berbincang-bincang dengan mahasiswa turki di cairo, si turki tersebut terkaget-kaget ketika mengetahui dia seorang mahasiswa indonesia...karna yang dia tau, mahasiswa indonesia di sana ga da yang bisa berbahasa arab selancar itu....ini hanya sebuah gambaran karna saya yakin si mahasiswa turki tadi masih "kurang gaul" dengan mahasiswa indonesia....karna yang lancar berbahasa arab juga banyak dan bahkan juga lebih baik dari banyak mahasiswa Libya........nah, seperti saya katakan tadi, ta'mim atw generalisasi sebuah kasus terhadap yang lain adalah penodaan terhadap objektifitas penilaian terhadap sesuatu...apapun itu.

Nah untuk kasus di atas, kita tidak bisa mengatakan mahasiswa Libya lebih unggul dari mahasiswa mesir ataupun sebaliknya karna masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. jangan sampai fanatisme almamater membuat kita memandang rendah yang lain karena adanya kekurangan di sana sementara di sisi lain kita melupakan kekurangan-kekurangan yang ada di diri sendiri...bukankah Rasul SAW pernah bersabda : Thuubaa Liman Syaghalahu 'Aibuhu 'an 'Uyuubinnaas.."...semut di seberang lautan terlihat tapi gajah yang di depan hidung sendiri ga keliatan....ini hanya akan terjadi ketika fikiran dipenuhi kebencian dan dendam sehingga kesalahan yang nampak di salah satu sisi, dan di beberapa personal langsung di ta'mim dan divonis menjadi kesalahan semua dan akhirnya seolah menganggap tidak ada kebaikan sama sekali disana.

Saya sendiri berharap tulisan-tulisan tentang mahasiswa Libya yang saya baca di sebuah blog dan saya rasakan "tidak pantas" itu tidak berangkat dari kebencian. Karna ketika ia berangkat dari kebencian maka akan hilang nilai objektifitas disana. Tidak banyak pelajaran kuliah yang membekas kuat di otak saya, namun salah satu hal yang masih saya ingat dengan jelas adalah sebuah nilai yang saya ambil dari buku "Waroqot fil Bahtsi wal Kitabah". Bahwa satu hal yang harus diperhatikann betul oleh seorang penulis ketika ingin menyimpulkan hasil penelitiannya adalah bahwa jangan sekali-kali men"ta'mim" suatu masalah sebelum betul-betul yakin akan kesahihannya. Karena itu harus berhati-hati menggunakan kata-kata "seluruh, semua" tanpa pengecualian…..karena walaupun kita melihat fenomena itu terdapat di sebagian besar, akan selalu ada sebagiann kecil atau bahkan sama besar yang "berbeda". Dan saya kira untuk hal ini tidak membutuhkan contoh lagi, karena apa-apa yang saya paparkan di atas walaupun tidak menyeluruh sudah cukup mewakili.

Seperti yang sering diulang-ulang oleh guru saya di pesantren dulu, "in uriidu illal islaah" catatan ini saya buat dengan harapan islah dan dalam rangka saling mengingatkan. Bukankah ini yang harus selalu dilakukan seorang muslim terhadap saudara muslim lainnya? Saya, dan para mahasiswa disini sangat terbuka dan menghargai setiap masukan dan kritikan yang diberikan kepada kami, sehingga dengan menampung saran dan kritik tersebut bisa memperbaiki diri dan melangkah menyongsong hari esok yang lebih baik. Apalagi ketika kritik itu datang dari seorang yang lebih "alim" dan jauh lebih berpengalaman, tentunya kritik yang diterima adalah kritik yang "terpelajar" dan "sedikit bernorma" dan karena yg melontarkan kritik adalah seorang yang sangat terpelajar tentunya "beliau" lebih memahami tentang tercelanya sikap "ta'mim" dalam objektivitas penilaian.

Dan kembali ke pembahasan awal di atas, sudah sepantasnya masing-masing dari kita memeriksa kembali kadar "tawadhu'" dan "takabbur" yang berada dalam diri kita dan kemudian berusaha meningkatkan dan menghiasi sikap dan prilaku dengan tawadhu' karena setahu saya (sebagai mahasiswa Libya yang sama sekali bodoh dan tidak bisa apa-apa) sikap tawadhu' lah yang senantiasa diperintahkan Allah dan Rasulnya dan bukan kebalikannya.

Imaroh 106/3/1
18:50 waktu Tripoli

Read More..

Wednesday, February 11, 2009

I cried for my brother six times

sy suka banget cerita ini...kisah tentang cinta antara dua saudara, kisah tentang pengorbanan....
ceritanya begini...........
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dengan punggung menghadap ke langit, sehingga warna kulitnya kelihatan legam terbakar. Selain orangtuaku, Aku hanya mempunyai seorang adik, yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku.



Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang kuinginkan, di mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya memilikinya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul! Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambuki adikku sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam setelah kejadian itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, tiba-tiba aku mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11 tahun.
- - -
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah Universitas Negeri di Ibukota Propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan tanpa berbicara lagi, kemudian Ayah mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.
Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan sekolah ke Universitas.”
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
- - -
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?” Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari seluruh tubuh adikku, dan terbata-bata sambil berkata, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."
Kemudian dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, sambil menjelaskan, "Aku melihat semua gadis kotamemakainya. Jadi aku pikir kamu juga harus memilikinya." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku. Aku menangis danmenangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
¬- - -
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela rumahku yang pecah telah diganti, dan rumah kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu semua adikmu yang melakukan. Dia pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan kemudian membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Suamiku dan aku sering kali mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku pun tidak setuju juga, dan mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Itu adalah tugas utamamu. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras untuk memulai bekerja dari bawah, sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku bekerja diatas sebuah tangga pabrik untuk memperbaiki sebuah kabel. Tanpa disadarinya, kemudian ia mendapatkan sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak tawaran menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang kamu dapatkan begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar - ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer dengan cara seperti itu, berita apa yang akan tersebar oleh orang lain?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun kami. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa berpikir panjang ia langsung menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat lagi.
"Ketika kami pergi sekolah waktu SD, lokasi sekolah tersebut berada pada dusun yang berbeda dengan dusun kami. Setiap hari kakakku dan aku harus berjalan selama dua jam lebih untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu bagian dari saputangan kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai-sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan akan selalu baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Aku sangat terharu… Aku tahu bahwa seisi ruangan itu menginginkan aku untuk berbicara. Namun kata-kata begitu susah terucapkan keluar dari bibirku, sampai akhirnya aku berucap "Dalam hidupku, orang yang paling berjasa dan kepadanya aku berterima kasih adalah adikku." Setelah mengucapkan kata-kata itu, dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan yang bagiku paling istimewa ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. Terus mengalir… sampai air mataku kering. Air mata itu adalah air mata kebahagiaan.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times".

Read More..

Tuesday, January 27, 2009

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna
sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan
terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong
mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak
capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak
haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya
punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku
tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "angan menangis anakku,Aku
tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di
kemudian hari.

Read More..

Sunday, January 25, 2009

Aku meminta, ya Allah..

Aku Meminta...
Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan
penderitaanku.

Allah menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan,
tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan
kecacatanku.

Allah menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan
hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku
kesabaran.

Allah menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari
kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan
adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.

Allah menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari
perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.

Allah menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri,
tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat
menikmati hidup.

Allah menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup,
sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang
lain, seperti Ia mengasihiku.

Allah menjawab.., akhirnya kau mengerti. HARI INI ADALAH
MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN. Bagi dunia kamu mungkin
hanyalah seseorang, ..
Ya Alloh...
Aku bersyukur bahwa aku belum memiliki semua yg kuiinginkan,
itu memberiku alasan untuk mengejarnya.

Aku bersyukur tidak mengetahui segalanya,
karena itu memberiku kesempatan untuk belajar.

Aku bersyukur Engkau memberiku masa-masa sulit,
karena di masa-masa itulah aku dapat tumbuh dan berkembang.

Aku bersyukur untuk keterbatasanku dan ketidaksempurnaanku,
karena itu memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri.

Aku bersyukur atas semua cobaan dan tantangan,
karena aku yakin itu akan membangun kekuatan dan karakterku.

Aku bersyukur atas rasa sedih, susah, duka dan nestapa, karena
merekalah aku bisa lebih tegar dan bijak.

Aku bersyukur atas segala kesalahan dan kegagalan,
karena mereka memberiku pelajaran yang berharga.

Aku bersyukur atas letih, lelah dan capekku,
karena mereka kawan terbaik usahaku.

Ya Tuhanku, Aku bersyukur Engkau tidak menjadikan segalanya mudah bagiku,
karena disanalah aku dapat menemukan makna hidupku dan lebih mendekatkan diri padaMu.

wa min 'indiLlahi khoir...
Allahummaj 'alna min 'ibadikasy syaakiriin....Aamiin...

Sumber: email dari kx_1180@yahoo.com (b@nds)

Read More..

Cuplikan la tahzan

*) Cercaan musuh dan umpatan orang-orang yang dengki kepada diri Anda
setara dengan nilai diri Anda. Sebab kini Anda menjadi bahan
perbincangan, dan seorang yang penting.

*) Jangan hidup dalam angan angan, tetapi hiduplah dengan realiti.
Dengan hidup dalam angan angan Anda menginginkan dari orang lain apa
yang tidak dapat Anda lakukan. Karena itu jadilah orang yang objektif
(dalam melihat kenyataan)

*) Ketahuilah bahwa orang yang menggibah Anda berarti memberi
kebaikan-kebaikannya kepada Anda, menghapuskan kesalahan-kesalahan Anda
dan menjadikan diri Anda orang yang terkenal. Tentu saja yang demikian
itu adalah nikmat.

*) Tuluskan tauhid Anda untuk Rabb agar hati terbuka. Sejernih mana
tauhid Anda dan sebersih mana keikhlasan Anda maka sejernih dan sebersih
itu pulalah kebahagiaan Anda.

*) Jadilah sosok pemberani yang berhati teguh dan berjiwa kuat. Anda
memiliki semangat dan tekad. Jangan sekali-sekali Anda termakan oleh
rumor dan cerita-cerita yang tidak benar.

*) Yakinlah bahwa dunia ini adalah tempat cobaan, ujian, dugaan, dan
kesedihan. Karena itu, terimalah ia apa adanya dan mintalah pertolongan
kepada Allah.

*) Pahala dari semua yang menimpa Anda ada pada Allah, baik itu kesedihan,
keresahan, kelaparan, kefakiran, rasa sakit, hutang, dan musibah-musibah
yang lain.

*) Ketahuilah bahwa kesulitan itu akan membuka pendengaran, dan
penglihatan, menghidupkan hati, mendewasakan jiwa, mengingatkan hamba
dan menambah pahala. Jangan menerka-nerka peristiwa, jangan menunggu
keburukan, jangan percaya terhadap semua kabar yang tidak jelas, dan
jangan menelan mentah-mentah cerita-cerita yang tidak benar.

*) Bacalah secara berulang-ulang La haula wala quwwata illa billahi,
karena bacaan ini akan membuat hati menjadi tenteram, memperbaiki
keadaan, membuat yang berat menjadi ringan dan membuat Yang Maha Kuasa
menjadi ridha.

*) Perbanyaklah membaca istighfar, sebab dengan istighfar akan ada rezki,
akan ada jalan keluar,akan ada keluarga, akan ada ilmu yang berguna,
akan ada kemudahan, dan akan ada penghapusan dosa.

*) Terimalah bentuk wajah, bakat , pemasukan, dan keluarga dengan
kelegaan hati niscaya anda akan mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan.

*) Ketahuilah bahwa setelah kesulitan itu akan ada kemudahan, dan
setelah kesulitan itu akan ada jalan keluar. Ketahuilah bahwa keadaan
seseorang itu tidak akan tetap selamanya, hari-hari itu akan senantiasa
bergilir.

*) Optimislah, jangan pernah putus asa dan jangan pula menyerah tanpa
usaha. Berbaiksangkalah kepada Rabb. Dan, tunggulah segala kebaikan dan
keindahan dari-Nya

*) Terimalah pilihan ALLAH untuk Anda dengan gembira. Sebab Anda tidak
tahu tentang kemaslahatan. Boleh jadi kesulitan itu baik dari pada
kemudahan.

*) Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri Anda dengan Rabb, akan
mengajarkan kepada diri Anda bagaimana berdo'a, dan akan menghilangkan
kesombongan, ujub, dan rasa bangga diri dari diri Anda.

*) Jauhilah buruk sangka, buanglah angan-angan, khayalan-khayalan yang
merusak, dan pikiran-pikiran yang sakit.

*) Bersyukurlah kepada Rabb atas nikmat agama, akal, kesehatan, penutup
aib, pendengaran, penglihatan, rezki, keluarga, serta nikmat-nikmat
lainnya.

*) Tidakkah Anda tahu bahwa diantara manusia itu ada yang hilang akalnya,
terampas kesehatannya, dipenjarakan, dilumpuhkan, atau ditimpakan bencana?

*) Hiduplah bersama Al-Qur'an, baik dengan cara menghafal, membaca,
mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ini merupakan obat paling
mujarab untuk mengusir kesedihan dan kedukaan.

*) Bertawakallah kepada Allah dan serahkan semua perkara kepada-Nya.
Terimalah semua ketentuan-Nya dengan sepenuh hati, berlindunglah
kepada-Nya, dan bergantunglah kepada-Nya karena sesungguhnya Dia cukup
sebagai pelindungmu.

*) Maafkanlah orang yang pernah melakukan kezaliman kepada Anda,
sambunglah tali silaturahmi orang yang memutuskan tali silaturahmi
dengan Anda, berilah orang yang tidak pernah memberi kepada Anda, dan
bersabarlah terhadap orang yang berbuat jahat kepada Anda niscaya Anda
akan memperoleh rasa bahagia dan aman dalam diri anda.

La Tahzan . DR. Aidh Al- Qarni. Hal. 486-487 (edited)

Read More..

Sunday, August 19, 2007

Kisah Pengendara Mobil

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. "Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!" "Hai, Jack. "Tanpa senyum. "Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah." "Oh ya?" Tampaknya Bob agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. "Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong." "Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. "Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala." ... Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

"Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu." Dengan ketus Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan Menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya. Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

"Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.

Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. Salam,Bob)."

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan. Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Drive Safely Guys...

Read More..

Berbuat baiklah

Segelas Air Susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat
lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, "berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?" Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam hatiku aku
berterima kasih pada anda."

Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.

Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita
tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.

Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa
wanita itu.

Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan... Wanita itu sembuh !!.

Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya
pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu
pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang
menarik perhatuiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang
berbunyi.. "Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.." tertanda, DR Howard Kelly.

Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: "Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."

Read More..

Manusia

Kisah Hidup Manusia

Kisah Hidup Manusia

Diawal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang sapi, "Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun."

Sang Sapi keberatan, "Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun"

Maka setujulah Tuhan.

Dihari kedua, Tuhan menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!"

Sang monyet menjawab "What? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu"

Maka setujulah Tuhan.

Dihari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggonggongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!"
Sang anjing menolak : "Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? No way. Kukembalikan 10 tahun padamu".

Maka setujulah Tuhan.

Dihari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: "Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!"

Sang manusia keberatan, katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun ? Itu terlalu pendek Tuhan. Let's make a deal. Karena Sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 70 tahun. Setuju ?"

Maka setujulah Tuhan.

AKIBATNYA ....................

Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan bersenang-senang.

30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita.

10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet.

Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat ....................

Komentar :

Tentu saja cerita ini fiktif; tetapi mengandung kebenaran tentang betapa manusia itu serakah dan sok pinter seolah melebihi Tuhan !

Read More..

Sebelum Kamu Mengeluh

Sebelum Kamu Mengeluh

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda,Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

12. Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !

Life is a gift

Live it...

Enjoy it...

Celebrate it...

And fulfill it.



13. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu

14. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

15. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,Mereka cantik/tampan karena anda mencintainya.

16. It's true you don't know what you've got until it's gone, but it's also true You don't know what you've been missing until it arrives!!!

Read More..

Tuesday, April 24, 2007

Sedikit motivasi

Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran. ( james Thurber )

Maut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup, kehilangan yang terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup. ( Norman cousins )

Jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang, mungkin saja perpisahan itu ternyata untuk selamanya. ( jean paul richter )

Pengalaman bukan apa yang terjadi pada anda, melainkan apa yang anda lakukan atas apa yang terjadi pada anda.

Read More..

Monday, April 23, 2007

Bersyukurlah

Bersyukurlah............

Jika populasi bumi berkurang hingga menjadi sebuah desa dengan hanya 100 orang penduduk, seperti apakah profil desa yang beragam ini jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku ?
Philip M Hartner MD dari fakultas kedokteran Stanford mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan ini.
Berdasarkan analisanya, desa kecil bumi akan terdiri dari :
57 orang asia
21 orang eropa
14 orang berasal dari bagian bumi sebelah barat
8 orang afrika

52 perempuan
48 laki-laki

80 bukan kulit putih
20 kulit putih

89 heteroseksual
11 homoseksual

6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi,dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari amerika serikat
80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak memenuhi standar
70 orang tidak dapat membaca
50 orang menderita kekurangan gizi
1 orang hampir meninggal
1 orang sedang hamil
1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
1 orang memiliki komputer

Jika anda dtinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca, anda adalah bagian dari kelompok terpilih.
Jika anda memiliki rumah yang baik, makanan, dapat membaca dan memiliki computer, anda bagian dari kelompok elit.
Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat, anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.
Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksaan atau kelaparan, anda berada selangkah lebih maju dibandingkan 500 juta orang di dunia.
Jika anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap. Disiksa, atau mati, anda beruntung karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tak dapat melakukannya.
Jika anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat anda beristirahat, anda lebih kaya dari 75 % penduduk di dunia ini.
Jika anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian uang untuk menikmati hidangan di restoran, anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.
Jika orang tua anda masih hidup dan menikmati bahagianya kehidupan pernikahan mereka, maka anda termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka, terutama di amerika serikat.
Jika anda mampu menegakkan kepala dengan senyuman di bibir dan merasa benar-benar bahagia, anda memiliki keistimewaan sendiri, karna sebagian besar orang tidak memperoleh kenikmatan tersebut.
Jika anda dapat membaca pesan ini, anda baru saja menerima karunia ganda, karena seeorang memikirkan anda, dan anda jauh lebih beruntung dibandingkan lebih dari 2 milyar orang yang tidak dapat membaca sama sekali.

Semoga anda menikmati hari yang indah ini. Hitunglah karunia keberuntungan anda, dan sampaikan hal ini kepada orang lain untuk mengingatkan bahwa sebenarnya, kita adalah orang-orang yang sangat beruntung.

Read More..