Showing posts with label indonesiana. Show all posts
Showing posts with label indonesiana. Show all posts

Thursday, June 18, 2009

Satu, dua, tiga….bingung???

Hari H pemilihan Presiden Republik tercinta semakin dekat dan langit Indonesia terasa semakin panas dan terus memanas oleh beragam jurus dan manuver yang dilakukan oleh masih-masing kandidat dengan tim sukses masing-masing. baik itu berupa janji-janji yang secara umum tampak menggiurkan dan menjanjikan kehidupan bernegara yang lebih cerah (namanya juga janji)...maupun klaim-klaim keberhasilan dalam menjalankan roda pemerintahan (kebetulan tiap pasangan pernah dan masih menjabat sebagai RI 1/2) bahkan juga saling kritik terhadap kelemahan pemerintahan yang lain.
bagi sebagian rakyat negeri ini, khususnya saya yang masuk kategori rakyat jelata, semua manuver yang dilakukan tiap kandidat hanya semakin menyeret saya ke dalam kebingungan, hanya bisa manggut-manggut ketika mendengar semua berbicara tentang masa depan negeri. walaupun terkadang saya suka membanding-bandingkan di antara mereka.


ketika nomer satu memimpin, saya nyaris tidak merasakan perubahan malahan terkaget-kaget ketika beberapa BUMN dilego....waktu itu sy cuma bisa bilang: Gila!!! ternyata presiden ini diem-diem pinter dagang.......lho???
ketika nomer dua memimpin dengan didampingi oleh nomer tiga, jujur, sy merasakan perubahan....dengan pembawaannya yang berwibawa, seolah itu juga bewrpengaruh kepada wibawa negara di depan negara lain...ketenangan yang ditunjukkan, mampu menenangkan hati rakyat (paling ga sebagian lah....) ditambah lagi dengan simpati karena banyaknya musibah yang menimpa negeri tercinta pada masa kepemimpinannya......mulai dari Aceh, berbagai gempa, khususnya Yogya, lumpur lapindo, berbagai kecelakaan pesawat, kapal...daaan banyak lagi.......dan yang lebih menentramkan adalah tercapainya perdamaian Aceh, Maluku dan Poso......ck ck ck....jujur lagi, sy tidak pernah ragu untuk memilih lagi pasangan ini.......taapiiiiiii.........
yang ketiga ternyata ditolak untuk kembali berpasangan dengan nomer dua....padahal siapapun tau bahwa perannya sangat vital dalam proses2 perdamaian yang membanggakan tadi.....kata orang, justru karena keaktifannya dalam membantu tugas-tugas presiden dan inisiatif nya yang meledak-ledak kemudian sang presiden merasa sering dilangkahi dan akhirnya memutuskan untuk bercerai dan memilih pendamping yang lebih penurut.....padahal mereka adalah pasangan yang saling melengkapi, di mata saya ideal banget gitu lho.....jawa-luar jawa, militer-sipil, yang satu tenang yang satu lagi spontan, yg satu formal yg satu lagi santai dan ga suka protokol2an......tapi itu masa lalu....
sekarang apa?? sekarang tinggal kebingungan......saling klaim, saling serang, saling ini, saling itu....saya hanya mengharapkan presiden yang betul-betul mencintai rakyat, berjuang untuk rakyat, mencintai negara ini dan all-out memajukan negeri ini, presiden yang bisa menurunkan harga kebutuhan pokok, menciptakan banyak lapangan kerja, memajukan pendidikan......apa ini kebanyakan...????

Read More..

Kita, demokrasi, dan (lagi-lagi) mbak Prita

Tinggal di sebuah negara yang mengaku sebagai Negara paling demokratis di dunia dengan system yang tiada duanya di dunia, yaitu sebuah system yang bertumpu kepada kongres-kongres rakyat sebagai pengejawantahan dari demokrasi versi pemimpin mereka, membuat saya justru bersyukur dengan alam demokrasi yang menaungi negeri tercinta, nun disana.
Disini, hampir seperti kondisi demokrasi di Indonesia zaman orde baru, sebuah zaman tanpa pergantian pemimpin, negeri yang saya tinggali ini telah dipimpin oleh orang yang sama sejak September tahun 1969, nyaris 40 tahun….8 tahun lebih unggul dari mbah Suharto.
Saat ini, di Indonesia pasca reformasi kebebasan berpendapat terjamin, setiap orang terlihat bebas bahkan mengkritik presiden secara terang-terangan, dan dia dijamin aman. Walaupun kebebasan itu banyak disalah gunakan dan cenderung kemudian kebablasan. Namun bagaimanapun juga, tinggal di negeri yang mengekang kebebasan berpendapat seperti ini, membuat saya tersenyum menatap alam demokrasi negeri saya.


Manusia makhluk yang istimewa karena kemampuannya dalam berfikir, buah dari fikiran itu yang kemudian melahirkan peradaban-peradaban yang mengagumkan dalam sejarah panjang kehidupan manusia. Maka menjadi Tanda Tanya besar apabila kemudian manusia dikekang dan dilarang menyampaikan buah dari fikirannya tersebut. Karena pengekangan itu berarti pengekangan terhadap ide-ide yang mungkin saja berpotensi melahirkan peradaban gemilang lainnya, bahkan walaupun pada saat ditelurkan ide tersebut bertentangan dengan kebijakan penguasa saat itu. Namun sebuah kebijakan bukankah bentuk lain dari penerapan buah fikiran manusia lain..??
Maka ketika kasus mbak Prita mencuat ke permukaan, saya miris dan dalam sekejap itu merasakan simpati terhadap apa yang menimpa mbak Prita. Email yang kemudian berbuntut tuntutan pengadilan tersebut sebenarnya tak perlu ada kalau saja RS Omni Internasional sigap menghadapi keluhan pasiennya, mungkin pihak rumah sakit menyesalkan sikap mbak Prita yang seolah menyebar luaskan aib, bukan kab lebih baik apabila protes disampaikan langsung secara “damai” ke pihak rumah sakit?? Namun kalau ini dibalik, bukankan itu tidak perlu terjadi kalau pihak rumah sakit mendengarkan keluhan tiap pasien tanpa pandang bulu?? Saya rasa ini juga mencerminkan sikap dari banyak rumah sakit di negeri kita yang lebih mengutamakan dan mendengarkan pasien-pasien berkantong tebal, sementara rakyat jelata diurus pun seharusnya sudah berterima kasih. Nampaknya seiring dengan kebebasan yang kemudian cenderung kebablasan, penghargaan kita terhadap kemanusiaan pun semakin berkurang.
Betul, kebebasan mempunyai batas-batas yang seharusnya jelas. Kebebasan saya berakhir ketika saya sudah menyentuh hak dan kebebasan orang lain, begitu juga dengan kebebasan anda maupun dia. Disini, pihak rumah sakit bahwa mbak Prita telah melangkah jauh melewati batas kebebasannya dengan menjarah wilayah kebebasan rumah sakit, namun kita juga harus tahu bahwa mbak Prita “terpaksa” menerobos wilayah itu karena hak dan kebebasannya terlebih dahulu dibelenggu oleh ketidak adilan dari pihak rumah sakit…..mudah2an ga terlalu muter-muter….

Read More..

Friday, April 17, 2009

Kisah lain di balik Pemilu


Pemilu legislatif yang baru saja usai menyisakan kisah lain di luar carut marut politik dan berbagai masalah kecurangan yang banyak diangkat.
Kisah ini berhubungan dengan para caleg yang telah banyak berkorban materi dan tenaga serta waktu untuk merebut satu kursi di legislative. Nah, ketika hasil pemilu tidak sesuai dengan yang diharapkan, dan tidak sebanding dengan biaya yang telah terkuras, mereka mulai linglung dan kemudian banyak yang stress. Sebuah republic yang unik. Kursi legislative tidak hanya diperebutkan oleh mereka yang layak, tapi juga terbuka bagi orang-orang gila yang ternyata selama ini tidak menyadari kegilaannya. Jadi di sisi ini, pemilu mempunyai hikmah yang juga unik, yaitu membuka mata masyarakat kita bahwa ternyata selama ini banyak orang gila di sekeliling mereka, dan kekalahan dalam pemilu membukakan jalan bagi orang-orang gila tadi untuk membuka tabir kegilaannya.


Memang, setelah pemilu digelar, barita-berita yang menghiasi wajah surat kabar nasional terbagi kepada dua hal. Yang pertama tentu saja tentang penghitungan suara, kecurangan-kecurangan yang dituduhkan, dimulai dari persoalan DPT, manipulasi suara dll……tuntutan kepada KPU dan bahkan Presiden, dan masalah-masalah lain yang berhubungan dengan kekisruhan pemilu. Nah, hal kedua adalah tentang sikap para caleg yang gagal tadi. Mulai dari yang stress, gila, bahkan sampai bunuh diri dan membunuh orang lain yang diduga mengejek kekalahannya. Juga berita tentang caleg yang berusaha meminta kembali uang ataupun hadiah yang diberikan kepada pemilih sebelum pemilu agar mereka mencentang namanya pada saat pemilihan, namun ketika suara yang didapat mengkhianati perjanjian tadi, maka uangpun harus kembali…keciaan..
Namun hal ini ternyata sudah diantisipasi oleh banyak Rumah sakit Jiwa yang jauh-jauh hari sudah menyiapkan kamar-kamar untuk para caleg yang stres. RSJ Semarang, Yogya, Pekan Baru, adalah sedikit di antara RSJ-RSJ lain yang mengantisipasi fenomena ini. Jadi bagi anda-anda yang mempunyai saudara, kenalan, teman, atau tetangga yang gagal jadi caleg, silahkan segera mendapatkan nomor telp RSJ terdekat di wilayah anda, karena siapa tahu dalam waktu dekat ini anda akan membutuhkannya……
106-03-01
17/4/09 22.57

Read More..

Thursday, April 16, 2009

Indonesia Tidak Dijajah Selama 350 tahun


Tanggal 8 Maret, 66 Tahun Lalu

"Wij sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!" (Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu!). Demikian NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij/Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda) mengakhiri siarannya pada tanggal 8 Maret 1942.

Enam puluh enam tahun yang lalu, tepatnya 8 Maret 1942, penjajahan Belanda di Indonesia berakhir sudah. Rupanya "waktu yang lebih baik" dalam siaran terakhir NIROM itu tidak pernah ada karena sejak 8 Maret 1942 Indonesia diduduki Pemerintahan Militer Jepang hingga tahun 1945. Indonesia menjadi negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Masyarakat awam selalu mengatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Benarkah demikian? Untuk ke sekian kalinya, harus ditegaskan bahwa "Tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun".

Masyarakat memang tidak bisa disalahkan karena anggapan itu sudah tertulis dalam buku-buku pelajaran sejarah sejak Indonesia merdeka! Tidak bisa disalahkan juga ketika Bung Karno mengatakan, "Indonesia dijajah selama 350 tahun!" Sebab, ucapan ini hanya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme rakyat Indonesia saat perang kemerdekaan (1946-1949) menghadapi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Bung Karno menyatakan hal ini agaknya juga untuk meng-counter ucapan para penguasa Hindia Belanda. De Jong, misalnya, dengan arogan berkata, "Belanda sudah berkuasa 300 tahun dan masih akan berkuasa 300 tahun lagi!" Lalu Colijn yang dengan pongah berkoar, "Belanda tak akan tergoyahkan karena Belanda ini sekuat (Gunung) Mount Blanc di Alpen."

Tulisan ini akan menjelaskan bahwa anggapan yang sudah menjadi mitos itu, tidak benar. Mari kita lihat sejak kapan kita (Indonesia) dijajah dan kapan pula penjajahan itu berakhir.

Kedatangan penjajah

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.

Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan "gospel, glory, and gold" mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.

Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.

Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi "izin dagang" (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi "negara dalam negara" dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC, kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi "tusschen personen" (perantara) penguasa VOC dan rakyat.

"Power tends to Corrupt." Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari "cacing cau" hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.

Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-190 , Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-190 , Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912).

Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Saat-saat akhir

Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.

Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.

Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.

Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.

Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.

Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa "Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur." Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.

Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.

Analisis

Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).

Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.

Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara.
Oleh Nina Herlina L.
Penulis, Guru Besar Ilmu Sejarah Unpad/Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat/Ketua Pusat Kebudayaan Sunda Fakultas Sastra Unpad.
http://forum.nationalgeographic.co.id/forum.php?id=11

Read More..

Wednesday, April 15, 2009

PKS................


Fakta membuktikan sampai saat ini bahwa PKS berhasil tampil sebagai partai yang bersih dan peduli, sesuai dengan jargon yang diusungnya. Selain itu PKS juga kental dengan identitas keislaman yang disandangnya walaupun tidak secara “brutal” mengusung penerapan syariah islam seperti yang dilakukan PBB. Dengan track record yang baik tadi, plus identitas sebagai partai islam, mestinya di Negara yang berpenduduk mayoritas islam PKS bisa menjadi jawara dalam pemilu yang dilakukan, atau paling tidak mendapat sekurang-kurangnya 20% seperti yang ditargetkan partai itu sendiri. Namun sampai saat ini PKS hanya menduduki peringkat keempat dan ini diprediksikan akan tetap, dan hanya mendapatkan 8% lebih.

Sebelum pemilu dilaksanakan, PKS terlihat berusaha membuka diri dan menampilkan kepada masyarakat bahwa mereka adalah partai semua golongan, sebuah usaha yang mungkin agak terlambat untuk menepis anggapan yang beredar umum di masyarakat bahwa PKS adalah partai kelompok tertentu, partai yang ekslusif.
Maneuver tentang pemilihan presiden dan wapres pun justru terlihat lebih membingungkan, bahkan cenderung “lucu”. Semua menyaksikan bagaimana PKS begitu sumringah ketika JK mengunjungi markas mereka di Mampang setelah menyatakan siap maju sebagai capres, dan PKS begitu gegap gempita berusaha menyandingkan JK dengan HNW. Dan tak lama kemudian berbelok menjadi SBY-HNW setelah JK bertemu dengan Mega.
Setelah pemilu, PKS terlihat semakin linglung. Ketika wacana SBY-JK kembali menguat seiring dengan perolehan suara Demokrat yang memuncaki daftar klasemen perolehan suara, dan Golkar di peringkat 2 dan 3 karena saling salip dengan PDI P, salah seorang petinggi PKS melontarkan sebuah ungkapan yang lagi-lagi lucu, bahwa mereka akan menarik dukungan apabila SBY kembali dengan JK. Yang saya fahami, JK tidak pantas lagi disandingkan dengan SBY karna status quo atau kinerja yang plin plan dan kekuatan Golkar di parlemen yang menurut mereka sering menghadang kebijakan SBY. Kalau memang seperti itu, kenapa mereka begitu bersemangat mendukung pencalonan JK sebagai capres beberapa saat lalu dan bahkan langsung menyambut dengan menawarkan HNW sebagai wapres??? Namun ini pun tidak lama berlangsung karena salah seorang petinggi nya kembali berusaha menjernihkan situasi dan mengembalikan posisi PKS ke sumbu koalisi PD. Akhirnya, seorang awam seperti saya cenderung menyimpulkan bahwa jelas ada perpecahan di dalam tubuh PKS, ini mulai terlihat sejak adanya keinginan menduetkan JK dengan HNW yang ditentang sebagian elemen di dalam tubuh PKS. Dan ini semakin terlihat ketika elemen yang menolak JK-HNW tadi mengeluarkan statemen penolakan SBY-JK kembali. Mungkin ada yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat dalam internal sebuah partai adalah hal yang biasa, namun menurut saya, pada titik ini, PKS mulai mengikuti “sunnah” partai-partai lain yang terpecah ketika perbedaan-perbedaan mendasar seperti ini dibiarkan berlarut, sehingga saya tidak akan heran apabila kemudian pada tahun-tahun mendatang akan muncul PKS Perjuangan atau PKS pembaharuan…sebuah bayangan yang terlalu ironis untuk partai seperti PKS….
Jadi, kembali kepada perolehan suara PKS yang terpaku di bawah 10% mungkin pada satu sisi terlihat tidak adil. Bukan kah PKS yang menunjukkan kepedulian melebihi partai-partai lain? Dibanding Golkar dan PDI P, PKS jelas lebih bersih dan bebas dari dosa panjang politik sebelum reformasi seperti yang dimiliki Golkar dan PDI P. Dengan Demokrat jelas PKS lebih “tua”, namun apa yang menyebabkan Demokrat mampu melejit bahkan melebihi dua parpol besar ?? atau dalam redaksi lain, apa yang dimiliki Demokrat dan tidak dimiliki oleh PKS?
Ketika membandingkan antara PKS dengan PD, yang pertama terlintas adalah label Nasionalis dan Islamis yang melekat di pundak kedua partai. Dalam dua pemilu terdahulu kita lihat pemenangnya juga berasal dari partai nasionalis. Dan partai islam harus tetap puas berada di papan tengah. Apa yang salah dengan muslim Indonesia?? Kenapa kepercayaan kepada partai nasionalis melebihi kepercayaan mereka kepada partai islam, dan kalau menilik pemenang pemilu sesungguhnya (dibaca Golput), maka ternyata label islam tidak cukup untuk menarik simpati rakyat, dan label islam juga tidak bisa menjamin mendapat kepercayaan dari rakyat yang meyoritas muslim.
Dengan pengalaman semenjak merdeka sampai sekarang dimana partai nasionalis senantiasa memimpin dalam setiap pemilu yang diselenggarakan, sepertinya rakyat merasa jauh lebih nyaman dengan apa yang selama ini mereka rasakan. Sehingga label islam yang diusung sejumlah partai tidak cukup menarik bagi mereka dan bahkan cenderung menakutkan. Jadi kalau dikatakan bahwa perolehan partai islam khususnya PKS tidak mampu menyaingi partai-partai nasionalis mapan karena keengganan mereka melakukan politik uang dalam merebut hati pemilih, saya rasa alas an ini juga kurang tepat. Toh banyak kita baca di berbagai media tentang caleg-caleg yang stress karena tidak memperoleh suara sesuai yang diharapkan, sementara biaya yang telah dikeluarkan untuk “membeli” suara telah banyak dihamburkan, dan di tempat lain juga banyak caleg yang menarik kembali hadiah yang diberikan kepada masyarakat ketika mengetahui bahwa mereka tidak memilihnya ketika pemilu. Semua fakta di atas membuktikan bahwa pemilih sudah cukup cerdik untuk menentukan pilihannya dan tidak melulu terikat kepada sogokan-sogokan politik yang diberikan caleg. Bagi mereka, kalaupun dikasih uang ya diambil, untuk urusan pilihan mereka akan memilih yang mereka anggap baik. Jadi alasan bahwa PKS mendapatkan suara minim karena tidak ikut-ikutan money politic adalah naĆÆf.
Disamping itu, ciri ekslusif yang selama ini terlanjur melekat pada PKS juga menjadi salah satu factor kenapa tidak semua pemilih parpol islam memilih PKS. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa PKS didirikan dan dibidani oleh sebuah kelompok islam yang terlihat “berbeda” dari yang lain. Fakta bahwa mereka bersih, jujur, peduli, professional, dan lainnya tidak cukup mampu menarik mereka yang terlanjur melihat mereka berbeda. Bahkan ketika kemudian PKS berusaha lebih membuka diri untuk menarik dukungan dari masyarakat yang lebih luas, fakta bahwa mungkin sekitar 99% caleg yang mereka ajukan berasal dari kalangan mereka, tidak cukup memback up langkah keterbukaan tadi. Sehingga pemilih muslim yang memilih parpol islam pun enggan mendekat ke PKS dan lebih memilih parpol islam lainnya.

KDI 106-03-01
150409 21.16

Read More..

Tuesday, March 31, 2009

PEMILU, KEPERCAYAAN, DAN HARAPAN…??


Tahun ini Bangsa Indonesia kembali akan menyelenggarakan sebuah helatan akbar, sebuah pemilihan umum yg juga sering kita sebut sebagai pesta demokrasi. Dimulai dengan pemilihan para wakil rakyat, dilanjutkan dengan pemilihan pucuk pimpinan Republik Indonesia. Pemilu kali ini akan menjadi yang ketiga pasca reformasi sekaligus menjadi kaca perbandingan sejauh mana tingkat kedewasaan politik yang telah dicapai dan sejauh mana cita-cita reformasi terwujud. Di satu sisi reformasi menghadirkan kebebasan dalam banyak bentuk. Kebebasan pers, kebebasan berbicara, menyampaikan pendapat dan kebebasan lainnya yang mungkin tak terbayang pada zaman orde baru. Namun disisi lain – di tatanan bawah, di kehidupan yang lebih nyata - reformasi menghadirkan banyak keluhan di masyarakat. Sehingga tidak sedikit yang merindukan kembali masa-masa orba yang terkesan lebih teratur, terkendali, dan yang paling penting dan lebih terasa bagi kebanyakan rakyat adalah harga-harga bahan dasar makanan pokok yang relative terjangkau dan jauh lebih murah dibanding harga-harga sekarang yang semakin melangit.

Mungkin bisa dikatakan bahwa pemilu Indonesia merupakan pesta demokrasi termahal, terheboh, dan paling menggairahkan. Dengan 44 partai politik yang berpartisipasi, puluhan ribu calon anggota legislative yang berjuang berebut mendapatkan kursi di parlemen, baik itu pusat maupun daerah tingkat I dan II, pemilu di negeri kita pantas disebut sebagai salah satu pemilu terakbar. Dan tentu saja biayanya juga akbar. Saya tidak bisa membayangkan berapa dana yang tersedot untuk pesta demokrasi ini, baik itu anggaran yang digelontorkan pemerintah sebagai penyelenggara, maupun dana yang dikeluarkan 44 partai peserta, ditambah dengan dana yang harus dikucurkan dari kantong-kantong pribadi puluhan ribu caleg yang bertarung. Mengingat berbagai penderitaan rakyat,musibah yang beruntun, dan banyaknya mereka yang masih terkatung-katung karena berbagai bencana alam yang menimpa negeri kita dalam beberapa tahun terakhir , saya hanya merasa bahwa triliunan rupiah yang tersedot untuk itu adalah sebuah harga yang pantas dipertanyakan.
Kita semua menginginkan perubahan, itu betul. Kita semua menginginkan perbaikan di segala bidang melalui pemilihan umum mendatang adalah tepat, namun menghamburkan biaya sebanyak-banyaknya demi sebuah hasil yang masih diragukan, adalah ironis. Saya tidak ingin bersikap apatis, namun bercermin kepada pemilu 2004 yg menghasilkan wakil-wakil rakyat yang amat sangat mengecewakan, saya tidak ingin harga yg begitu mahal kembali dikorbankan hanya untuk menelurkan tipe-tipe wakil rakyat yang sama. Kita sudah kenyang dengan ulah para wakil rakyat terhormat yang terlihat jelas hanya mementingkan perut sendiri dengan berbagai tingkah konyol dan bermacam muslihat demi mempertebal kantong mereka, tuntutan demi tuntutan kenaikan gaji, mendapatkan komisi ini itu, di samping gaji yang cukup besar (apalagi diukur dari pendapatan mayoritas bangsa ini) yg telah diberikan Negara – dan itu tentunya berasal dari rakyat – sementara tepat di depan hidung mereka rakyat yang seharusnya mereka perjuangkan menjerit kelaparan….semua itu, semakin menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap wakil-wakil mereka di gedung DPR sana. Saya tidak ingin menafikan mereka yang betul-betul berjuang demi rakyat, namun sayangnya, jumlah mereka kalah jauh dibanding para wakil rakyat gadungan tadi, sehingga saya seringkali merasa kasihan karena mereka juga harus ikut terkena getah cacian dari rakyat.
Namun bagaimanapun tampaknya pemilu adalah sebuah keniscayaan dalam berdemokrasi. Karena untuk saat ini, itulah satu-satunya cara untuk membawa perubahan, mengumpulkan asa jutaan rakyat yang nyaris kehilangan kepercayaan akan kehidupan yang lebih baik.
Pemilu legislatif yang diadakan setiap 5 tahun sekali menjadi keharusan yang menunjukkan bahwa negara Indonesia adalah negara yang menganut asas demokrasi, dan bertumpu pada bentuk negara kesatuan RI, namun tak bisa dipungkiri juga amanah demokrasi yang mengharuskan pemilu yang langsung, umum, bebas dan rahasia tanpa kecurangan itu hanya menjadi isapan jempol belaka, bukti di lapangan tidak seperti apa yang diamanahkan.
Dan seiring dengan semakin dekatnya pemilu, harapan-harapan jutaan rakyat Indonesia seolah semakin berdengung keras, menghentak-hentak lantang lewat ribuan microfon di seluruh pelosok negeri, mengalir dari lidah-lidah para juru kampanye. Harapan-harapan tersebut disambut dengan janji-janji tentang Indonesia yang lebih baik, janji-janji tentang kehidupan yang lebih baik, dan janji-janji tentang pemerintahan yang berpihak kepada rakyat. Maka seperti pemilu-pemilu yang lalu, masa-masa kampanye adalah masa-masa tebar pesona dan janji.
Dan di sisi lain, berbagai manuver politik, baik yang dilakukan oleh partai-partai maupun calon-calon yang dielus dan diorbitkan untuk menjadi calon presiden mendatang semakin berwarna. Harian-harian nasional dipenuhi dengan berita-berita tentang setiap move-move politik yang semakin membingungkan. Telinga masyarakat menjadi amat familiar dengan kosa kata seperti koalisi, blok-blok politik maupun poros-poros yang dihembuskan dan kemudian beterbangan secara serampangan menuai berbagai analisa dan komentar-komentar di media massa.
Mulai dari blok S yang identik dengan SBY, blok M atau blok Megawati, blok J untuk Jusuf Kalla, lalu pada tingkat koalisi antar partai ada blok pembaharuan, kemudian muncul istilah segitiga emas yang dimunculkan Surya Dharma Ali dengan menyatukan 3 partai tua (Golkar, PDIP dan PPP), dan diikuti dengan munculnya istilah jembatan emas yang digagas oleh Partai Demokrat dan dilihat sebagai usaha untuk menyaingi segitiga emas yang terlebih dulu digagas.
Belum cukup sampai disini, setelah banyak nama yang muncul untuk maju pada pemilihan presiden mendatang, baik yang dicalonkan partai maupun yang maju sebagai calon independen, akhirnya mengerucut pada 3 nama, SBY, Mega dan JK. Sedangkan nama-nama lain walaupun masih bertahan seperti Prabowo diperkirakan tidak bisa bersaing dan justru lebih berpeluang apabila maju sebagai cawapres dari salah satu nama capres di atas. Nah, pada penentuan cawapres inipun kemudian zig zag politik parpol-parpol juga terlihat membingungkan. Jk yang ekseptabilitas nya cenderung meningkat setelah menyatakan kesediaannya untuk maju sebagai capres langsung disambut hangat oleh PKS, dan harian-harian nasional pun diramaikan oleh berita kemungkinan duet ideal antara JK dan Hidayat Nur Wahid. Sebuah paduan ideal antara jawa-non jawa dan nasionalis-islam. Namun tidak lama isu itu mental begitu JK menyambangi Megawati dan tercetus kemungkinan adanya koalisi gajah antara 2 parpol besar. Tidak lama, PKS merapat kembali kepada Demokrat dan muncul lagi bentuk pasangan ideal lain, SBY-HNW. Paduan antara militer-sipil dan nasionalis-islam. Dan setidaknya sampai saat ini duet ini terus digodok. Adapun koalisi antara Golkar dan PDIP untuk pemilihan presiden diperkirakan sulit terwujud mengingat keduanya sama-sama mengajukan calon presiden dan sulit dibayangkan salah satu dari Mega atau JK mau mengalah dan menjadi wakil bagi yang lain.
Semua manuver-manuver politik di atas tentunya belum ada yang memberikan kepastian, baik itu tentang koalisi partai, pembentukan blok-blok dan poros-poros politik antar parpol, maupun wacana tentang capres dan cawapres yang mendampinginya. Apalagi banyak parpol yang menegaskan bahwa keputusan final tentang koalisi dan pengajuan capres atau cawapres baru akan diambil setelah melihat hasil pemilu legislative nanti.
Apapun juga, akhirnya bagi kebanyakan rakyat awam, dan termasuk saya, semuanya serba membingungkan. Satu partai yang tadinya terlihat merapat ke partai lain tau-tau menyebrang dan merapat ke yang lain lagi, dalam tingkat capres cawapres juga seperti itu. Mungkin semua ini bagian dari kalkulasi politik yang harus dihitung untung ruginya, dan bagian dari penjajakan untuk melihat sejauh mana kecocokan program antara satu dengan yang lainnya. Mungkin bagi yang mengerti politik, semua ini terlihat menggairahkan, melahirkan analisa-analisa cerdas dalam membaca kalkulasi politik yang tergambar dari tiap maneuver yang dilakukan oleh tiap partai maupun capres dan cawapres. Namun bagi mereka yang tidak terlalu mengerti, sekali lagi, sangat membingungkan. Salah sendiri ya..?? siapa yang suruh mikirin..??..
Kembali kepada pemilu legislative yang sudah di depan mata, Jujur saja, dengan system yang ada sekarang saya pribadi meragukan pemilu ini akan mampu melahirkan wakil rakyat dalam arti yang sebenarnya. Wakil rakyat yang benar-benar berjuang untuk rakyat, berusaha mewujudkan janji-janji yang ditebar selama kampanye. Dan pada pemilu sekarang, dengan adanya peraturan baru yang menghapuskan sistem nomer urut dan digantikan dengan sistem suara terbanyak masing-masing caleg, maka tiap Caleg harus bekerja keras mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya yang artinya tiap calon harus mengeruk saku lebih dalam!. Ditambah lagi kemudian dengan “pemerasan” yang dilakukan oleh calon pemilih terhadap caleg kalau ingin dipilih. Jadi, kalau dulu kita biasa mendengar money politic yang dilakukan oleh partai atau caleg tertentu, saat ini lebih berkembang dengan tuntutan money politik yang justru datang dari pemilih. Dan cilakanya, permainan “politik uang” juga tidak akan banyak menentukan kemenangan para caleg, karena masyarakat pemilih kita saat ini sudah relatif cerdas dalam menentukan pilihannya. Pemberian caleg dalam bentuk materi akan mereka terima dengan senang hati, namun pilihan mereka di bilik suara belum tentu kepada yang memberikan materi.
Sudah menjadi rahasia umum kemudian apabila mereka yang berhasil lolos ke Senayan kemudian menjadikan pengembalian dana kampanye sebagai prioritas utama dalam bekerja. Dan sudah menjadi rahasia umum pula apabila salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia menjadi negara miskin karena adanya perilaku korupsi. Dan salah satu sumber korupsi terbesar, berasal dari lembaga legislatif.
Saya minta maaf apabila catatan kecil ini penuh dengan sikap pesimis dan jauh dari sikap “pemuda harapan bangsa” yang seyogyanya senantiasa optimis dalam menyongsong hari esok. Saya sudah berusaha mencoba optimis dan berfikir lebih positif ketika mencoba menggoreskan pena untuk catatan kecil ini, namun berbagai fakta menyedihkan dan sekaligus memuakkan tentang berbagai perilaku korupsi yang melibatkan para anggota dewan yang terhormat, semakin hari semakin menggerus kepercayaan yang sebenarnya masih ingin saya pertahankan.
Jadi kalaupun fenomena golput diprediksi akan cenderung meningkat dan kembali menjadi pemenang pada pemilu mendatang, saya rasa itu tidak terlepas dari hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemilu dan produk yang dihasilkan pemilu. Bahkan saya meragukan fatwa MUI tentang keharaman golput mempunyai efek yang besar dalam mengurangi angka golput. Karena pada kenyataannya, golput hanyalah akumulasi dari kekecewaan yang terus menumpuk setiap kali pemilu dilaksanakan dan melahirkan produk-produk yang tidak berubah bahkan cenderung semakin korup. Dan pada akhirnya, golongan “putih” hanyalah sebuah refleksi yang kemudian mengarah menjadi bentuk lain dari perlawanan rakyat menentang politik “hitam” yang seakan tertancap demikian dalamnya di kancah perpolitikan Indonesia.
Lalu, kalaupun ada yang kemudian bertanya apakah harapan sudah hilang sama sekali?? Saya akan menjawab : “dum vita est, spest est” bahwa selama kita hidup, harapan akan tetap ada. Tanpa harapan bagaimana mungkin kita berani menyatakan bahwa kita masih hidup?? Apalagi ketika kita berbicara tentang sebuah bangsa yang besar yang sayangnya sampai saat ini masih jauh dari sikap dan ciri-ciri sebagai “bangsa yang besar” .
Sehingga walaupun sulit, saya pribadi ingin mencoba mengais sisa-sisa harapan yang mudah-mudahan tersisa di puing kepercayaan yang telah ambruk, toh siapa tahu, (walaupun saya tidak berani untuk berharap) pemilu kali ini mampu menghadirkan mukjizat bagi negeri ini, bagi bangsa ini. Siapa tahu diantara 44 partai politik yang bertarung, diantara ribuan caleg yang “rebutan kursi” di senayan ada yang benar-benar jujur mewujudkan janji-janji yang beterbangan selama kampanye. Siapa tahu pemilu ini mampu menghadirkan sosok-sosok “wakil rakyat” bi ma’na-l-kalimah. Wakil rakyat yang benar-benar bejuang demi rakyat dan Negara, dan siapa tahu pemilu Presiden nanti mampu melahirkan sosok pemimpin yang mampu memerdekakan bangsa ini dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan mental-mental koruptor yang melilit jauh sampai ke pedalaman, pemimpin yang mampu membawa bangsa ini melaju kencang dan menjadikan perbedaan-perbedaan yang ada sebagai sebuah kekuatan yang menyatukan seluruh elemen bangsa…. saya harap ini bukan “harapan” KOSONG!!

Read More..

Thursday, March 12, 2009

Politik gonjang ganjing ( 3 )

Hari ini JK bertemu dengan Mega. Pertemuan dua pucuk pimpinan dari dua partai terbesar ini menjadi headline berita-berita politik dalam negeri. Berbagai spekulasi dimunculkan. Apakah pertemuan ini hanya kongkow-kongkow politik biasa, sebuah pertemuan silaturahmi yang masih terlalu jauh apabila dikaitkan dengan isu koalisi, sebagaimana kehadiran JK di kantor pusat PKS beberapa waktu lalu yang berakhir dengan bias tanpa adanya deal-deal politik yang jelas. Ataukah pertemuan ini merupakan penjajagan akan terwujudnya satu koalisi yang kokoh yang melibatkan dua partai besar?

Dari hasil pertemuan yang menghasilkan lima kesepakatan yang terdiri dari : 1. Membangun pemerintahan yang kuat untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. 2. Memperkuat sistem pemerintahan presidensial sesuai dengan amanat UUD 1945 yang memiliki basis dukungan yang kokoh di DPR. 3. Memperkuat sistem ekonomi untuk melaksanakan program ekonomi yang berdaulat, mandiri, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. 4. Mempererat komunikasi politik PDI Perjuangan dan Partai Golkar sebagai perwujudan tanggung jawab dua partai politik terbesar Pemilu 1999 dan Pemilu 2004. 5. Menyukseskan pelaksanaan Pemilu 2009 secara jujur, adil, langsung, umum, bebas dan rahasia serta aman dan bermartabat. Kesepakatan ini ditandatangani langsung oleh keduanya, tetapi dibacakan oleh Sekjen Golkar Soemarsono dan Sekjen PDI-P Pramono Anung secara bergantian.
Dari poin-poin yang disepakati, bayangan akan proses menuju koalisi seolah makin jelas paling tidak bagi saya yang awam politik. Khususnya poin satu yang jelas-jelas menyebutkan kesepakatan untuk Membangun pemerintahan yang kuat untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Sepertinya kesepakatan ini akan sulit diwujudkan tanpa koalisi antara mereka dan kemudian bahu membahu dalam satu pemerintahan.
Koalisi dua partai ini di mata saya akan menciptakan sebuah pemerintahan yang kokoh, kedua partai ini sama2 partai tua yang sangat mengakar di masyarakat. Kesamaan platform menjadikan koalisi di antara mereka lebih mudah dan penyatuan program akan berjalan mulus. Namun sekarang timbul beberapa pertanyaan, siapa di antara mereka yang mengalah dan bersedia menerima pos nomor 2? Apakah Mega-JK ataupun JK-Mega cukup populer? Karena untuk pemilihan presiden, pemilih lebih mengedepankan figur yang dipilih, bukan partai pengusung. Kemungkinan Mega untuk menerima posisi RI 2 amat kecil dan pengajuannya sebagai capres merupakan harga mati. Sedangkan JK, apabila ternyata suara Golkar lebih unggul dibanding PDIP, apakah ia bersedia kembali mengalah dan kembali menempati posisi 2?

Selanjutnya dimana partai islam apabila koalisi tadi terwujud? Apakah PKS akan diikutkan dalam koalisi? Kita sering mendengar, dalam politik apapun bisa terjadi. Bahkan walaupun Golkar dan PDI-P merasa sudah cukup kuat dengan koalisi raksasa mereka, namun PKS juga tidak bisa diabaikan dalam merangkul suara islam dan kaum muda perkotaan. Sedangkan partai-partai islam yang lain sepertinya sulit untuk diperhitungkan mengingat semakin tidak populernya partai-partai tersebut di masyarakat. Kalau boleh saya coba-coba mengira-ngira, maka di luar Golkar dan PDI-P yang akan memimpin, dibawahnya akan bersaing Demokrat dengan PKS, kuda hitam yang layak diperhitungkan mungkin hanya Gerindra. Sedangkan partai-partai lain sepertinya hanya akan bertarung agar tidak terdegradasi pada pemilu berikutnya.

Lalu bagaimana dengan Demokrat? Sepertinya kesombongan demokrat akan dibalas dengan menjauhnya partai-partai yang pada pemerintahan sekarang berkoalisi dengan mereka. walaupun lembaga2 survey banyak yang mengunggulkan Demokrat, tapi sepertinya itu terlalu jauh. Karena bagaimana pun Demokrat hanyalah partai baru yang terdongkrak berkat sosok SBY. Ketika popularitas SBY menurun, dengan sendirinya perolehan suara partai akan ikut menurun, persis dengan PAN dan Amin Rais nya. Jadi, dengan merapatnya Golkar kepada PDI-P dan PKS yang jg merancang koalisi dengan Golkar, sepertinya beban Demokrat semakin berat. Paling tidak, sebagai langkah awal mereka harus mendapatkan minimal 20% suara untuk kembali dapat mengusung SBY. Dan tanpa koalisi dengan partai lain sepertinya itu sulit terwujud. Dan kalau mereka tidak pandai-pandai membawa diri dan merangkul partai lain bisa jadi mimpi untuk menampilkan kembali SBY tinggal kenangan.

Bagaimanapun masih terlalu dini memperkirakan pasangan-pasangan yang akan maju sebagai capres-cawapres mendatang, mengingat partai-partai politik pun berkali-kali menyatakan masih menunggu hasil pemilu legislatif untuk menentukan langkah politik selanjutnya. Jadi, menarik untuk mengikuti perkembangan deal-deal politik yang akan dibuat nanti. Sekali lagi, segala kemungkinan masih bisa, dan apapun masih bisa terjadi di dunia politik republik kita.
12/3/2009
22.35

KDI Imaroh 106/03/01



Read More..

Politik gonjang ganjing ( 2 )

Semakin menarik saat ini melihat nominasi-nominasi wapres yang akan diusung oleh masing-masing capres. PKS dari jauh-jauh hari semenjak JK menyatakan kesediaannya maju sebagai capres telah terang-terangan melamar JK untuk dipasangkan dengan Hidayat Nur Wahid. Walaupun HNW nya sendiri masih terlihat malu-malu. Sedangkan Megawati sampai saat ini masih dihubung2kan dengan Sultan yang berkeras maju sebagai capres. Nama HNW sendiri sempat mengapung sebagai sosok yang dilirik namun tampaknya aura Sultan lebih kuat di mata para pendukung Megawati. Dan PKS pun tidak merespon kemungkinan tersebut.

Dengan tidak disertakannya Demokrat oleh Golkar maupun PDI-P tampaknya PKS menjadi pilihan yang cukup menarik bagi kedua partai besar tersebut. Dengan dukungan pemilih perkotaan yang cukup militant dan terorganisir ditambah track record yang masih bersih, mengikutkan PKS seolah menjadi jaminan terdongkraknya suara secara cukup signifikan. Dan partai ini jelas-jelas telah teruji di dua pemilu yang lalu dimana pada pemilu terakhir suaranya melonjak cukup signifikan. Berbeda dengan dua partai lain yang dianggap sebagai kuda hitam seperi Hanura maupun Gerindra yang sama sekali belum teruji dan selama ini baru sebatas koar-koar.
Namun sepertinya siapapun diantara Golkar maupun PDI yang kemudian berkoalisi dengan PKS ditambah partai2 lainnya mungkin, dan kemudian menang maka salah satu diantara dua partai ini kemungkinan besar akan menjadi oposisi. Oposisi yang cukup kuat di parlemen. Mungkin di satu sisi adanya partai oposisi yang kuat baik bagi perjalanan demokrasi, namun disisi lain – di mata saya – tidak sehat bagi koalisi partai yang memimpin. Dengan perbedaan suara yang tipis antara koalisi yang memimpin dengan koalisi oposisi, berbagai program yang dicanangkan akan sering terantuk dan sulit menembus kritisnya oposisi di parlemen. Ini tentu saja menghambat gerak pemerintahan dalam menjalankan programnya.

Lalu bagaimana dengan PPP atau PKB? Saya rasa dua partai ini semakin ditinggalkan oleh pemilih. PPP sebagai partai "tua" tidak mampu mempercantik diri dengan tampilan-tampilan baru yang memikat dan program-program yang ditawarkan pun terasa hambar. Tidak ada gebrakan dan terobosan yang dilakukan untuk menjaring pemilih pemula. Sedangkan para pemilih tua yang masih setia, dengan 44 partai yang ada ditambah dengan pencantuman nama caleg di kertas pemilihan menjadikan kertas tersebut amat besar, dan sepertinya orang-orang tua "malas" untuk menyusahkan diri mencari-cari partai mana yang harus dipilih, sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pencoblosan atau pencoblosan yang "asal-asalan" patut diperhatikan.
Sedangkan PKB, partai yang katanya anak kandung NU ini justru hancur dari dalam dikarenakan perselisihan yang tak kunjung usai. Setelah Mathori disingkirkan, giliran Alwi Shihab yang harus pergi kemudian. Digantikan oleh Muhaimin yang masih keponakan Gusdur sebagai Godfather partai ini. Dan terakhir, alih-alih ingin menyingkirkan Muhaimin, justru Gusdur sendiri yang harus tersingkir. PKB terbelah, dan deretan perpecahan yang terus terjadi semakin menyusutkan suara partai ini. Karena itulah mungkin dalam gonjang-ganjing yang terus bergulir ini nama PPP maupun PKB seolah hilang dan tak pernah disebut-sebut.
Begitu juga dengan PAN yang pada awal pendiriannya mengandalkan sosok Amin Rais yang melejit pada era reformasi ternyata tak mampu menembus dominasi partai-partai besar dan hanya meraup kurang dari 10 % pada pemilu pertama dan kemudian tambah merosot pada pemilu yang lalu. Dengan adanya "sempalan" dan perpecahan yang ditandai dengan berdirinya PMB, maka PAN pun sepertinya harus berjuang keras untuk lolos dan tetap eksis pada pemilu mendatang. Sama dengan partai-partai kecil lain yang akan digilas oleh sejarah.

Read More..

Politik gonjang ganjing ( I )

Semakin mendekati hari H pemilu, ranah politik Republik tercinta makin memanas. Partai-partai politik saling melakukan maneuver-manuver dan berbagai langkah yang cenderung zig-zag yang akhirnya semakin membingungkan. Tentunya membingungkan bagi orang seperti saya yang tidak mengerti politik tapi coba-coba berusaha ngertiin, ga membingungkan bagi mereka yang ga peduli dan bahkan bagi golongan ini apapun yang dilakukan partai-partai tersebut sama sekali ga perlu dipikirin apatah lagi "dibingungin". Sedangkan bagi mereka yang "faham" politik, maneuver-manuver yang saling menelikung ini justru semakin menarik dan semakin membangkitkan daya kritis dan seolah menghentak-hentak gairah untuk terus menganalisa gerak demi gerak yang dilakukan.

Lembaga-lembaga survey pun bahkan ikut2an bikin bingung. Berbagai survey-survey terakhir yang dihasilkan oleh lembaga survey malah menjadi boomerang yang berbalik menghantam kredibilitas lembaga-lembaga tersebut. Tuduhan-tuduhan bahwa lembaga tertentu telah "dibeli" oleh partai tertentu lantas menyeruak seiring dengan bertolak belakang nya hasil-hasil yang ditelurkan. Dan akhirnya, saya rasa saat ini sudah banyak yang mencibir dan sama sekali tidak mempercayai lembaga-lembaga survey yang ada. Termasuk saya.

Beberapa waktu lalu partai-partai politik berlomba-lomba untuk meng-klaim keberhasilan yang dibuat pemerintah. Dan tentunya itu semua dilakukan sebagai bentuk dari kampanye. Yang punya presiden mengklaim keberhasilan secara umum, penurunan BBM yang belum pernah ada sejarahnya (padahal semua juga tau kl penurunan itu karma minyak dunia juga melorot drastis), atau keberhasilan pemerintah dalam menyelesaikan konflik2 terutama konflik aceh, dan keberhasilan2 bla bla bla…yang punya wakil presiden jg mengedepankan peran besar sang wakil presiden dalam menyelesaikan konflik2 diatas dan merasa tersinggung karna peran itu tidak disinggung ketika partai presiden menyinggung keberhasilan di bidang tersebut. Partai yang punya mentri di bidang pertanian juga tidak mau kalah, dengan seolah menepuk dada mengatakan : lihatlah wahai bangsaku…inilah mentri dari kader partai kami yang sukses di bidang pertanian….kita tidak perlu lagi mengimpor beras sodara2!!! Saling klaim keberhasilan ini bagi saya amat menggelikan, sangat-sangat childish.

Ketika satu pemerintahan berjalan, seharusnya tidak ada lagi baju-baju partai karma yang ada adalah pemerintahan republic Indonesia secara keseluruhan. Presiden yang ada adalah presiden seluruh rakyat, mentri yang terpilih adalah mentri seluruh rakyat, bukan mentrinya partai anu atau anu, sehingga apapun keberhasilan atau kegagalan yang didapat, merupakan prestasi dari keseluruhan, bukan keberhasilan atau kegagalan partai tertentu. Setidaknya itu yang saya fahami.

Urusan tentang siapa yang akan jadi orang nomor 1 di republic pun semakin kabur dan persaingan ke tampuk pimpinan tersebut bertambah seru. Duet SBY- JK yang tadinya dianggap paling berpeluang untuk meneruskan misinya menjadi buyar ketika JK diusung partainya sebagai capres dan kemudian sampai saat ini beliau berkali-kali menyatakan kesediaannya, tentunya semua itu Demi Bangsa dan Negara. Megawati yang bernafsu untuk kembali merasakan nikmatnya jadi presiden masih mencari-cari dan menyeleksi sosok-sosok yang dianggap pantas mendampinginya sekaligus mendongkrak perolehan suara. Capres-capres independent mental ketika MK menolak adanya capres independent. Sultan yang tadinya cukup pe de dengan dukungan Golkar untuk maju sebagai capres menjadi mengerucut dalam sekejap bagitu JK menyatakan kesediaannya. Bagaimana pun JK is the Boss. Mengharapkan keberuntungan Wiranto ketika mengalahkan Akbar tanjung dalam konvensi capres Golkar sepertinya hampir mustahil. Saat itu Akbar hanya sebatas ketua partai, sedangkan JK juga wapres incumbent dengan sederet prestasi yang terus digembar-gemborkan. Rizal Ramli pun sampai sekarang hanya mampu mengumpulkan beberapa partai kecil yang rasanya berat untuk mendapat suara yang cukup bahkan untuk menghindar dari electoral threshold sekalipun. Sehingga akhirnya nama-nama yang beredar saat ini mengerucut ke 3 orang. Yaitu SBY, JK, dan Megawati.
Namun saya pribadi meragukan kemampuan partai democrat untuk bermain sendir mengusung kembali SBY. Tanpa dukungan koalisi dari partai-partai lain yang justru memilih meninggalkan SBY ditambah Golkar yang bertekad mengusung JK, bisa-bisa pada saatnya nanti, hanya tinggal dua nama yang beredar memperebutkan posisi RI 1, yaitu JK dan Megawati.

Read More..

Tuesday, January 27, 2009

24 Rekor Dunia yang sampai saat ini masih dipegang Indonesia

Disamping beberapa kekurangan yang sering melekat di tanah air kita Indonesia, namun ada puluhan rekor dunia yang patut kita banggakan sebagai warga negara Indonesia karena sampai saat ini blom ada yang mampu memecahkan rekor tersebut dari Indonesia.

Berikut daftar 24 rekor dunia yang dimiliki Indonesia.

- Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni).

- Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2)

- Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia.

- Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI.

- Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.
- Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia . Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.

- Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia . Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia.

- Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850).

- Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus’¬ yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.

- Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia.

- Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966.

- Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambang supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002).

- Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.

-Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

- Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.

- Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).

- Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species.

- Biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

- Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi.

- Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bias mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.

- Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter.

- Memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi.

- Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.

- Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.

Read More..

Monday, January 26, 2009

INDONESIA ‘’NEGARA BAGIAN’’ SINGAPURA? (3)

Sumber: aya hasna/dbs (04/05/2007)
Jakarta, ahmadsumargono.net. NEGARA KECIL INI MENJADI RAKSASA KARENA DIBACK UP ISRAEL, AMERIKA, DAN INDONESIA!



Menurut laporan Merrill Lynch dan Capgemini yang dirilis 10 Oktober 2006, aset 55 ribu orang terkaya di Singapura bernilai US$ 260 miliar. Kategori orang kaya yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kekayaan sekitar US$ 1 juta. Tho menambahkan, jumlah orang kaya yang bertempat tinggal di Singapura mengalami lonjakan 13,4 % dari tahun 2004. Sementara itu, dari total orang kaya Singapura 1,3% merupakan orang kaya dengan kekayaan sekitar US$ 30 juta. Dia memperkirakan, pertumbuhan orang kaya di Singapura akan mencapai 20% sampai 25% dalam beberapa tahun mendatang. Hal itu terjadi karena Singapura memiliki tata kelola manajemen bisnis yang baik di Asia (Investor Daily, 11/10/06).

Jika melihat data dari Corruption Perception Index (CPI) yang diterbitkan Transparency International setiap tahun, terlihat, Singapura termasuk negara paling bersih dari korupsi bersama sejumlah negara Skandinavia. Tahun 2005, misalnya, survei Transparency International menempatkan Singapura sebagai negara nomor lima paling bersih dengan score 9,4.

Rentang score yang digunakan survei Transparency International adalah 0-10, angka 10 untuk negara zero corruption dan angka 0 untuk negara paling korup. Score 9,4 adalah yang amat bagus mendekati sempurna, dan menjadi daya tarik bagi pengusaha dan mereka yang ingin menabungkan uangnya di bank-bank Singapura. Kerahasiaan bank terjamin dan aman. Tidak heran jika Singapura, negara berpenduduk sekitar 4,5 juta jiwa dengan produk domestik bruto (GDP) sekitar 132 miliar dollar AS, menjadi pusat keuangan dan bisnis regional yang maju pesat, hadir sebagai saingan baru bagi pusat keuangan mapan seperti Hongkong dan Swiss.

Maka, bagi publik, terutama pengusaha, Singapura adalah negara yang amat maju, teratur, bersih dari korupsi, dan dituntun oleh Rule of Law. Lembaga pengadilan amat mandiri, independen, dan tanpa korupsi. Putusan pengadilan selalu berdasar ketentuan hukum yang berlaku (strict law).

Belakangan, penyelesaian arbitrase di Singapura juga mulai populer karena dianggap memiliki kredibilitas tinggi. Akhirnya Singapura menjadi bukan saja tempat bisnis, tetapi juga tempat rujukan penyelesaian sengketa bisnis. Tidak heran jika kita melihat banyak kontrak bisnis internasional yang mencantumkan penyelesaian sengketa bisnis di lembaga pengadilan atau arbitrase di Singapura.

Mengenai keperkasaan militer Singapura, Atase Perhubungan Udara RI di ICAO (International Civil Aviation Organization) yang bermarkas di Montreal, Kanada, Yusuf Syiun menyebutkan bahwa negeri yang berluas hanya 600-an km persegi tersebut, ternyata diserahi wewenang untuk mengawasi wilayah udara Nusantara, padahal pesawat-pesawat mereka, begitu take-off ia sudah memasuki wilayah Indonesia, kata pejabat yang berasal dari P Sabu di dekat P Sumbawa itu.

Pertanyaannya, faktor apa saja yang membuat negara kecil itu sedemikian hebat?

Faktor Israel

Pada 15 Juli 2004, penulis Israel, Amnon Barzilai, menulis sebuah berita pendek di Haaretzdaily.com yang berjudul “Israel set up Singapore's army, former officers reveal”. Isinya menjelaskan, bahwa sejak awal berdirinya, negara Singapura telah meminta bantuan Israel untuk merancang tentaranya, sehingga sekarang menjasi salah satu tentara terkuat di Asia Tenggara.

Dikatakan: “The Singaporean army, which is today considered one of the strongest in southeast Asia, was set up by Israel.”

Pada Desember 1965, delegasi militer Israel yang diketuai oleh Mayor Jenderal Ya'akov Elazari tiba di Singapura secara rahasia dan mulai membangun berbagai cabang kekuatan militer di sana.

Sejak itu, hubungan keamanan antara kedua negara mulai diperkuat, dan sekarang, Singapura merupakan salah satu konsumen terbesar terhadap senjata dan sistem persenjataan Israel.

Pendiri Singapura dan sekaligus perdana menteri pertama, Lee Kuan Yew, ketika itu, meminta Israel untuk membantu mendirikan ketentaraan negaranya, tidak lama setelah Singapura dipisahkan dari Malaysia tahun 1965. Delegasi Israel terdiri atas enam pewira tentara dan dibagi dalam dua tim. Pertama, dipimpin oleh Elazari, bertugas mengatur pertahanan dan keamanan internal kementerian. Yang lain dipimpin oleh Mayjen Yehuda Golan membangun infrastruktur militer, dengan mengikuti model Israeli Defence Force (IDF). Para perwira Israel itu juga memberikan pelatihan pertama terhadap para perwira tentara Singapura.

Dan yang menarik, disebutkan dalam berita itu, delegasi Israel yang berangkat ke Singapura dilatih oleh seorang fundamentalis Zionis bernama Rehavam Ze'evi, mantan menteri pariwisata Israel, yang akhirnya dibunuh oleh pejuang Palestina dari kelompok PFLP. Ze’evi-lah yang dikatakan menulis ‘blueprint’ untuk tentara Singapura.

Faktor Amerika

Dirjen Kerja Sama Internasional Departemen Perindustrian dan Perdagangan Dr Pos Hutabarat agak kurang menyetujui, sebab keperkasaan negeri sekecil Singapura itu mendapat bantuan penuh dari Amerika.

Betapa tidak, volume perdagangannya (ekspor-impor) bernilai 270 miliar dolar AS, sementara Indonesia baru mencapai 70 juta dolar AS, padahal jumlah penduduk Singapura hanyalah 4 juta orang, sedangkan Indonesia berpenduduk hampir 50 kali lipat Singapura, yaitu 214 juta jiwa.

Bayangkan, katanya, seluruh jenis komiditi ekspor Singapura yang bernomenklatur sejumlah 7.000 mata dagangan itu, tak satu pun yang kena beban pajak impor, artinya bebas masuk. Ini karena kedua negara tersebut sudah menandatangani FTA (Free Trade Area). Sementara Indonesia bila mengekpor barang-barang ke Amerika, dikenakan bea masuk yang berkisar antara 5 sampai dengan 30 persen. Barang-barang elektronika Indonesia, kata Dr Pos Hutabarat, harus membayar pajak masuk sampai dengan sebesar 30 persen, sementara Singapura 0 persen.

Ketika ditanya mengapa Singapura bisa mengekspor jenis-jenis komoditi yang demikian banyak, Pos Hutabarat menjelaskan bahwa untuk satu jenis komoditi elektronika saja, bisa terdiri dari puluhan bahkan ratusan nomenklatur, seperti TV katanya, bisa terdiri dari pelbagai ukuran, tipe, warna. Begitu juga komputer, radio, telepon, lampu, dan sebagainya. Semua jenis dan sub-jenis elektronika itu bisa mencapai 400-an [nomenklatur].

Agar jelas, kata Pos Hutabarat, satu jenis mata dagangan seperti beras bisa terdiri dari banyak jenis, seperti beras ketan, ketan putih, ketan hitam, kemudian yang non-ketan, ada beras cianjur, rajalele dan sebagainya. Apalagi jika dilihat dari sisi ukuran broken (taraf kepatahan ujung beras) dan warnanya. Maka, dari satu komoditi beras bisa terdiri dari 20-an nomenklatur.

Menurut catatan Atase Perdagangan di KBRI Ottawa, Dharma Budhi SE MBA, Indonesia sampai saat ini telah mengekspor bermacam-macam komoditi, seperti pakaian jadi, aneka jenis tekstil, karet alam, barang-barang dari karet, elektreonika, furniture, udang, aneka ikan, bahan-bahan makanan seperti mi instan yang secara keseluruhan mencapai 1.570 nomenklatur dengan nilai (ekspor-impor) sebanyak 1,2 miliar dolar AS per tahun. Sedangkan ekspor Indonesia ke Amerika, kata Pos Hutabarat, berkisar 8 miliar dolar AS.

Ketika menyinggung soal potensi konflik dagang antara Indonesia dan Amerika, seperti soal paha ayam, Pos Hutabarat menyebutkan, Indonesia telah meminta fasilitas yang sama seperti Singapura bagi P Batam, yaitu soal bebas bea masuk, sebagai imbalan paha ayam yang diributkan tempo hari. Amerika menyetujui, katanya, dengan syarat perusahaan yang beroperasi di P Batam itu harus dimiliki oleh Singapura. Bila perusahan itu dimilki oleh Indonesia, maka barang-barang yang diolah dari P Batam itu harus membayar bea masuk ke Amerika dengan tarif sebesar 5-30 persen, tergantung jenis barang yang diekspor. Kerena Amerika menolak usulan Indonesia tentang fasilitas yang kita minta untuk P Batam agar disamakan dengan Singapura, maka konflik Indonesia-Amerika belum terselesaikan.

Faktor Indonesia

‘’Anda adalah seorang pengusaha Indonesia. Anda telah menyuap pejabat bank negara untuk mendapatkan 200 juta dollar Amerika Serikat tanpa jaminan memadai, atau analisa risiko, untuk sebuah bisnis yang Anda tahu tak akan bisa berjalan. Aparat penegak hukum mengetahui hal ini dan Anda dihadapkan kepada ancaman penahanan. Anda harus lari ke tempat di mana aparat hukum tak akan bisa menyentuh Anda. Ke mana? Singapura. Mengapa? Karena Singapura hanya setengah jam terbang dari Jakarta, atau 45 menit dengan ferry dari Batam, dan yang terpenting Singapura tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia”.

Itulah awal tulisan Michael Backman di harian The Age (Melbourne, 26/7/2006) yang terkesan amat ironis dan penuh sinisme, namun begitulah adanya.

Jika meneliti konglomerasi Indonesia dan dunia, terlihat banyak sekali regional headquarters berdomisili di Singapura, dan uang pun mengalir ke sana. Proses pengambilan keputusan pun akhirnya banyak dilakukan di Singapura, menyebabkan lalu lintas ke dan dari Singapura menjadi amat padat. Lihat, pesawat Jakarta-Singapura setiap hari padat penumpang.

Netty Ismail, dalam tulisannya berjudul ‘’Morgan Stanley’s Quit After Singapore E-Mail’’ (Bloomberg, edisi 5 Oktober 2006), mengungkapkan bahwa Chief Economist Andy Xie yang telah bekerja sekitar sembilan tahun pada Morgan Stanley terpaksa atau dipaksa mundur. Itu setelah Xie menulis di e-mail internal bahwa keberhasilan Singapura berasal dari uang haram para pejabat dan pengusaha Indonesia yang dicuci di Singapura. “Indonesia has no money. So Singapore isn’t doing well”, kata Andy Xie dalam salah satu e-mail-nya.

Dalam hal ini, mantan Perdana Menteri Malaysia menyatakan, bahwa ‘Terorisme Ekonomi Lebih Berbahaya’, karena menyebabkan kerusakan yang berefek sangat panjang. Pernyataan ini disampaikan Mahathir Muhammad menanggapi dominasi mata uang dan ekonomi Barat di Yogyakarta, seusai memperoleh penghargaan "AFEO (Asean Federation of Engineering Organizations) Distinguished Fellow Award", 22 Oktober 2003.

Singapura sebetulnya mendulang sukses dari uang-uang haram hasil penjarahan uang negara Indonesia yang dilakukan pejabat dan pengusaha hitam.

Indonesian Corruption Watch (ICW) kepada pers di Jakarta, Kamis (26/4), mengungkapkan, ada 17 buronan yang diduga koruptor berada di Singapura. Jumlah itu bisa bertambah, karena saat ini ada 40 tersangka korupsi yang buron.

Ke-17 orang yang diduga korupsi dan diperkirakan masih berada di Singapura antara lain Sjamsul Nursalim, kasus BDNI dengan kerugian negara Rp6, 9 triliun dan US$ 96, 7 juta, Bambang Sutrisno, kasus Bank Surya dengan kerugian negara Rp1, 5 triliun, Adrian Kiki Irawan, kasus Bank Surya dengan kerugian negara Rp1, 5 triliun.

David Nusa Wijaya, kasus Bank Sertivia dengan kerugian negara Rp1, 26 triliun, Samadikun Hartono, kasus Bank Modern dengan kerugian negara Rp169 miliar, Agus Anwar, kasus Bank Pelita kerugian negara Rp1, 9 triliun, Irawan Salim, kasus Bank Global kerugian negara US$ 500 ribu.

Sudjiono Timan, kasus BPUI kerugian negara US$ 126 juta, mantan direktur dan komisaris PT MBG, yaitu SH, HH, TS, GS, dan TWJ dalam kasus BPPN dengan kerugian negara Rp60 miliar, Hartono Tjahjadjaja, kasus BRI Senen kerugian negara Rp180 miliar, Nader Taher, kasus Bank Mandiri kerugian negara Rp24, 8 miliar, Maria Pauline Lumowa, kasus BNI kerugian negara Rp 1, 9 triliun dan Atang Latief, kasus Bank Bira dengan kerugian negara Rp 155 miliar.

Menurut ICW, daftar koruptor itu diperkirakan akan terus bertambah, karena masih ada puluhan tersangka koruptor yang kabur ke luar negeri. "Kita belum tahu data pastinya, tetapi yang jelas dalam hitungan kita ada 40-an yang kabur. Mereka kabur bisa ke Singapura atau negara lainnya, " ujarnya.

Tidak heran melihat banyak gedung, apartemen, dan kantor yang merupakan investasi orang-orang Indonesia yang oleh pemerintah Singapura diberikan banyak kemudahan, termasuk pajak dan izin tinggal (permanent residence), bahkan dalam beberapa kasus diberi kewarganegaraan Singapura. Beberapa pengusaha Indonesia diketahui memiliki status warga negara Singapura. Mereka lalu menjadi untouchables karena bukan lagi warga negara Indonesia.

Misalnya, setelah diberi keringanan untuk membayar utang dan dihapus tuntutan hukumannya (Release and Discharge), sejumlah pengemplang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) kabur ke Singapura. Misalnya Atang Latief (Bank Indonesia Raya), Lidya Muchtar (Bank Tamara), Agus Anwar (Bank Pelita dan Bank Istimarat), Sjamsul Nursalim (BDNI), dan Samadikun Hartono (Bank Modern).

Tak heran bila terungkap bahwa sekitar Rp 800 triluanan dana milik 18 ribu warga negara Indonesia disimpan di Singapura. Jumlah itu merupakan sepertiga aset 55 ribu orang terkaya di Singapura yang bernilai US$ 260 miliar. GDP per kapita Indonesia 720 dolar AS, sementara Singapura sudah mencapai 23 ribu dolar AS (atau 32 kali Indonesia).

Namun, menurut laporan Merrill Lynch dan Capgemini yang dirilis 10 ktober 2006 lalu, dari total US$ 260 miliar 55 ribu warga Singapura, US$ 87 miliar atau setara Rp 800 triliun merupakan kekayaan milik 18 ribu warga negara Indonesia yang memiliki izin tinggal di negeri itu. "Singapura menjadi negara yang memiliki kebijakan sangat terbuka untuk menarik imigran kaya seperti Indonesia," tutur Tho Gea Hong, market director Merrill Lynch Global Private Client.

Tahun sebelumnya, Pemerintah Singapura pernah mensinyalir ada sekitar 65 milyar USD uang orang Indonesia yang diinvestasikan di Negeri Singa. Dari angka itu diperkirakan total uang orang kaya Indonesia yang parkir di berbagai negara sekitar 150 miliar dolar AS, atau setara Rp 1.350 triliun pada kurs Rp 9.000. Jumlah ini melebihi total dana pihak ketiga di bank nasional sebesar Rp 900 triliun, dana reksadana sekitar Rp 110 triliun, maupun rerata transaksi harian pemodal lokal di bursa saham yang sekitar Rp 1,5 triliun (Investama, edisi 121/VII, 12-25 April 2005).

Pada shopping season Juni 2005 di Singapura, ternyata the biggest spendor-nya orang Indonesia dengan nilai transaksi lebih dari Rp 1 trilyun. Rekor ini mengalahkan pembelanja dari Jepang dan Amerika sekalipun.

Sejak 1993 hingga kini sedikitnya 50 juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) asala Indonesia “diambil” Singapura melalui beasiswa dari berbagai universitas. Kepala Seksi Kesiswaan Dinas Pendidikan Menengah Tinggi (Dikmenti) DKI Budiyanto menyatakan banyaknya juara OSN yang hijrah karena perguruan tinggi Indonesia tidak mendukung mereka (Koran Tempo, 3/9/05).

Read More..

INDONESIA ‘’NEGARA BAGIAN’’ SINGAPURA? (2)

Sumber: aya hasna/dbs. (04/05/2007)
Jakarta, ahmadsumargono.net. KRONOLOGI EKSPOR PASIR KE SINGAPURA

1970-an

Kegiatan ekspor pasir laut ke Singapura sendiri dimulai sejak 1976 seiring dengan dimulainya proyek Reklamasi (perluasan) pantai daratan Singapura.

Hanya ada tiga pemain besar di sini. Kelompok pertama yang menguasai dua Kuasa Penambangan (KP): PT Equator Reka Citra, PT Nalendra Bhakti Persada, PT Indoguna Yuda Persada, PT Sangkala Duta Segara, dan PT Sugi Mahaya. Sedangkan, kelompok kedua dan ketiga masing-masing dengan satu KP: PT Citra Harapan Abadi dan PT Beralang Sugi Bulan.

Data menyebutkan pada tahun 1990 luas negara Singapura adalah 580KM2, tapi peta pada tahun 2010 menjadi 760 KM2 , artinya bertambah 31% dibanding tahun 1990.

Untuk itu, Pemerintah Negara Singapura hingga tahun 2010 membutuhkan pasir urug sebanyak 7,120.000,000 M3. Pasir sebanyak itu untuk mereklamasi di dua kawasan yakni pantai barat dan pantai Timur.

Wilayah-wilayah yang akan direklamasi: West Bank East Bank, Jurong Phase III-B Ubin Island, Jurong Phase IV-A Tekong Island, Jurong Phase IV-B Changi Phase 1-A, Tuas Extention Phase 4 Changi Phase 1-B, Jurong Phase I Changi Phase 1-C, Jurong Phase II Punggol, Southern Island Other Package, Sentosa Island.

Agustus 2001

Pencurian pasir laut di wilayah perairan Indonesia semakin marak. Salah satu modus operandi menggunakan kapal buatan Belanda yang mampu menghisap pasir sambil berjalan dengan kecepatan 2-3 knot dalam satu jam mampu menyedot hingga 10.000 M3. Biasanya pencurian itu pada malam hari untuk mengelabui petugas.

Februari 2002

Departemen Perindustrian dan Perdagangan menghentikan ekspor pasir timah dan pasir laut karena sulit mengontrol maraknya pencurian.

18 April 2002

Pemerintah melalui Instruksi Presiden No 2 tahun 2002 memberlakukan pelarangan ekport pasir laut, yang diperuntukkan bagi perluasan (reklamasi) pantai Singapura.

27 Mei 2002

Aktivitas penambangan pasir laut di Riau dibuka kembali melalui Kepres No 33 Tahun 2002 tertanggal 23 Mei 2002.

September 2002

Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR RI telah membentuk Tim Pengawasan Pasir Laut. Tim ini akan mengoordinasikan setiap komisi di dewan yang terkait dengan permasalahan pasir laut. Seperti Komisi Politik dan Pertahanan, Komisi Pertanian dan Perikanan, Komisi Industri dan Perdagangan, serta Komisi Pertambangan dan Lingkungan Hidup.

Maret 2003

Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Rini Suwandi, memutuskan menghentikan sementara ekspor pasir laut. Dalam Surat Keputusan Nomor 117/MPP/Kep/II/2003 yang ditandatangani pada 28 Februari lalu dikemukakan penghentian ekspor akan ditinjau kembali setelah program pencegahan terhadap kerusakan pesisir dan pulau-pulau kecil tersusun.

Selain itu, ekspor akan dilanjutkan kembali jika sengketa penetapan batas wilayah lauh antara Indonesia dan Singapura telah diselesaikan.

Pasir laut yang dihentikan ekspornya adalah bahan galian pasir yang terletak pada wilayah perairan Indonesia, yang tidak mengandung unsur mineral golongan A dan/atau golongan B, dalam jumlah berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan. Sebelumnya, Menperindag telah menentukan pula kuota ekspor pasir laut untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Juni 2004

Belum ada rencana Departemen Perindustrian dan Perdagangan untuk mengijinkan kembali ekspor pasir laut. Masih menunggu pembicaraan instansi lain terkait mengenai kelestarian lingkungan dan perbatasan Negara Indonesia- Singapura.

27 April 2007

Presiden SBY dan PM Singapura Lee Hsien Loong, meneken Perjanjian Ekstradisi Singapura-Indonesia di Istana Tampaksiring, Bali. Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai, kesepakatan itu tidak masuk akal, karena disertai kesepakatan pertahanan yang membolehkan Singapura melibatkan pihak ketiga berlatih militer di Indonesia. Sedangkan Pakar Hukum Internasional Prof Hikmahanto Juwana menyebut bahwa para koruptor yang dibidik perjanjian itu akan lari duluan. Selain itu, dicurigai bahwa kran ekspor granit dan pasir dari Indonesia ke Singapura akan dibuka lagi.

Read More..

INDONESIA ‘’NEGARA BAGIAN’’ SINGAPURA? (1)

Sumber: aya hasna/dbs (04/05/2007)
Jakarta, ahmadsumargono.net. "Bapak Bangsa Singapura" mengatakan bahwa sangat penting etnis Cina yang dominan di Singapura untuk berani menghadapi Malaysia dan Indonesia yang didominasi Muslim.

Pemerintah Singapura tentu kagok bila menyebut negerinya ‘’tanah air’’. Pasalnya, tanah, pasir, dan air mereka sebagian berasal dari negeri jiran, seperti Vietnma, Thailand, Malaysia, Indonesia.

Penulis Malaysia, Syen Yee Aun, dalam artikelnya berjudul ‘’Kelicikan Singapura’’, menyebut bahwa setelah lepas dari Melayu 48 tahun lalu, Singapura meliciki bekas negeri kesatuannya.

‘’Dalam pada itu, mereka bagaikan parasit yang menghisap darah kita untuk mengaut keuntungan yang lebih daripada 30 kali ganda. Seliter air kita hanya menjual kepada mereka beberap sen sahaja tetapi air kita pula digunakan oleh mereka dan dijual lebih daripada RM 1. Walaupun kita sudah menjelaskan bahawa taraf dan kos hidup semakin meningkat dan pelbagai lagi alasan diberi tetapi tidak pernah dihirau oleh mereka! 1 sen pun tidak sanggup dinaikkan oleh mereka sedangkan mereka sendiri memperoleh keuntungan yang berlipat kali ganda lebihnya! Kepentingan mereka melebihi kepentingan orang lain. Budaya tidak tahu membalas jasa dan budi kerana tanpa air kita mereka tidak mampu memperoleh keuntungan sedemikian.’’

‘’Kita mempertingkatkan Pasir Gudang kita sendiri tidak menyalahi undang-undang kerana pasir gudang berada di kawasan kita. Singapore pula menyalahi undang-undang dengan menambak tanah yang bukan merupakan kawasannya. Didapati tambakan tanah itu dapat menghalang laluan kapal ke pasir gudang! Begitu kejam dan licik demi merampas perniagaan!’’

Ekspor pasir laut dari Indonesia ke Singapura dimulai sejak 1976 seiring dengan dimulainya proyek Reklamasi (perluasan) pantai daratan Singapura.

Pada tahun 1990 luas negara Singapura adalah 580KM2, tapi peta pada tahun 2010 menjadi 760 KM2 , artinya bertambah 31% dibanding tahun 1990.

Untuk itu, Pemerintah Negara Singapura hingga tahun 2010 membutuhkan pasir urug sebanyak 7,120.000,000 M3. Pasir sebanyak itu untuk mereklamasi di dua kawasan yakni pantai barat dan pantai Timur.

Wilayah-wilayah yang akan direklamasi meliputi: West Bank East Bank, Jurong Phase III-B Ubin Island, Jurong Phase IV-A Tekong Island, Jurong Phase IV-B Changi Phase 1-A, Tuas Extention Phase 4 Changi Phase 1-B, Jurong Phase I Changi Phase 1-C, Jurong Phase II Punggol, Southern Island Other Package, dan Sentosa Island.

Pemerintah RI pada 22 Januari lalu memperpanjang pelarangan ekspor pasir ke Singapura. Larangan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI No: 02-M/DAG/Per/1/2007 ini mulai efektif pada 6 Februari 2007.

Keputusan Pemerintah Indonesia yang melarang ekspor pasir ke Singapura akan berdampak serius bagi Johor, Malaysia. Larangan ekspor pasir yang ditetapkan pada Selasa (23/1) lalu dikhawatirkan akan memicu terjadinya penyelundupan pasir di sepanjang pantai Johor.

Perdagangan pasir selundupan bakal marak, karena harga pasir terus melambung. Kesempatan itu tampaknya akan digunakan sindikat perdagangan pasir ilegal. ''Ini adalah kabar buruk bagi Johor. Itu juga berarti akan banyak kapal yang masuk ke pantai kami pada tengah malam untuk menyelundupkan pasir,'' ujar peneliti keanekaragaman hayati, Vincent Chow.

Menteri Perdagangan Indonesia, Mari Elka Pangestu, sebelumnya memaklumatkan bahwa pihaknya melarang ekspor pasir, tanah, dan top soil (termasuk humus) ke Singapura. Hal itu dilakukan dengan alasan pelestarian lingkungan dan menjaga kedaulatan Republik Indonesia.

Pelarangan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan No 02/M-DAG/PER/1/2007 tentang larangan ekspor pasir, tanah dan top soil dan berlaku sejak 23 Januari 2007. Larangan ekspor pasir ke Singapura juga pernah dilakukan pada Februari 2003.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai pemasok pasir utama ke Singapura, sejak Malaysia menetapkan larangan ekspor pasir pada 1997. Setiap tahunnya, negara Singa Putih itu mengimpor pasir sekitar enam hingga delapan juta ton. Keputusan Indonesia melarang ekspor pasir ke Singapura itu diperkirakan bakal berdampak pada proyek pembangunan pipa saluran Singapura yang bernilai 60-90 miliar dolar AS.

Chow mengatakan, para penyelundup berani mengambil risiko, karena mereka sangat tergiur dengan keuntungan besar. Pengerukan pasir merupakan bisnis yang sangat menguntungkan. Nilai perdagangan pasir di pasar dunia telah mencapai 7 miliar dolar AS per tahunnya.

Kini, luas wilayah Singapura hanyalah 639 km persegi atau satu per 3.300 kali Indonesia (luas Indonesia 1,9 juta km persegi). Meski larangan ekspor pasir dari Indonesia ke Singapura diperpanjang, dalam praktiknya bisnis ilegal ini tetap jalan terus. Karena Singapura memang membayar mahal untuk setiap kubik pasir.

Namun, menurut Menteri Luar Negeri RI Nur Hassan Wirajuda, reklamasi pantai Singapura tak menyebabkan penambahan batas wilayah laut. ''Reklamasi itu tak akan menganggu apa-apa dalam artian penambahan batas wilayah laut,'' katanya di Jakarta, Rabu (21/2/07).

Ini, lanjutnya, dengan syarat reklamasi itu terjadi di bagian selatan batas laut Indonesia-Singapura. Sebab, garis batas laut kedua negara di bagian selatan, khususnya di atas Pulau Batam dan Pulau Nipah, telah ditandatangani pada 1973. ''Selama ini kami melihat bahwa reklamasi dilakukan di bagian selatan yang menurut kami tak akan berpengaruh pada garis batas laut kedua negara,'' katanya.

Sebaliknya, Ketua DPR Agung Laksono, mendukung langkah pemulangan Dubes Singapura untuk Indonesia, Ashok Kumar Mirpuri, secepatnya. Upaya tersebut sebagai bentuk protes terhadap penambahan daratan Singapura yang menjorok 12 mil laut ke wilayah kedaulatan RI.

''Pemerintah bisa segera memulangkan dubes Singapura sebagai protes atas tindakan yang tidak bersahabat dari Singapura,'' ujar Agung kepada pers di Gedung DPR/MPR.

Menurut Agung, langkah Singapura memperluas wilayahnya melalui reklamasi pantai harus dipermasalahkan karena bisa menimbulkan permasalahan pada lintas dan batas negara RI. ''Soal reklamasi ini harus diambil langkah cepat. Bila perlu reklamasi ini dihentikan, karena mengambil lahan kita,'' tegasnya.

Agung meminta Deplu dan Dephan segera mengambil langkah konkret menghentikan reklamasi Singapura. Ia meminta pemerintah segera membentuk tim hukum yang tangguh untuk berunding dengan Singapura maupun internasional.

Selain masalah reklamasi, ia juga mengecam sikap Singapura yang berusaha mencampuri kebijakan pemerintah Indonesia atas pelarangan ekspor pasir ke fSingapura. ''Itu kan urusan dalam negeri, dan tidak mengganggu wilayah Singapura.''

Wajar bila Agung Laksono khawatir bagian Indonesia akan dicaplok Negeri Singa. ''Karaha Bodas kalah, Sipidan- Ligitan lewat, dan jangan sampai ini lewat lagi,'' ia mengingatkan.

Ketua DPR menambahkan, selama ini pemerintah selalu bersikap lembek terhadap Singapura.

Almarhum Ekky Syachruddin pernah mendengar kedahsyatan negeri singa itu dari Atase Pertahanan Udara Indonesia di Washington yang mengatakan, ketika ia masih menjadi komandan skuadron udara di pangkalan Madiun, suatu ketika mendapat printah dari Komando Pertahanan Udara Nasional untuk segera melesat ke udara, sebab pada radar di Markas Besar TNI, terlihat bahwa di atas P Bangka dan Belitung terlihat bercak-bercak tanda pesawat tempur asing (mungkin Australia). Begitu sang kapten kapal tersebut memasuki wilayah udara Palembang, tiba-tiba ada perintah dari Singapura untuk lapor tentang keberdaan pesawat pancar-gas TNI AU tersebut ketika mereka berada di atas wilayah udaranya sendiri. ''Opo ora heibat, Mas,'' katanya berseloroh kepada Ekky.

Setelah pembelian Indosat oleh Singapura, muncul guyonan getir di kalangan elite Indonesia, bahwa Indonesia telah menjadi satu propinsi atau negara bagian dari Singapura. Terbukti, negara besar bernama Indonesia dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa, dalam banyak hal tidak berdaya menghadapi tekanan Singapura.

Sebutlah satu contoh, tentang masalah Perjanjian Ekstradisi. Sampai sekarang, belum ada perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura. Padahal, pemerintah Indonesia telah meminta berkali-kali, namun selalu ditolak Singapura. Masalahnya, di Singapura, banyak sekali warga Indonesia yang bersembunyi karena melakukan pencucian uang (money laundering).

Dalam acara “Conference on Combating Money Laundering and Terrorist Financing” di Bali pada 18 Desember 2002, pemerintah Indonesia menyampaikan kekesalannnya, karena Singapura selalu menolak membuat perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Banyak orang Indonesia yang menjadi tersangka tindak pidana pencucian uang sekarang ada di Singapura. Bahkan, sebagian sudah dituntut ke pengadilan, tapi tidak bisa dihadirkan, karena mereka tinggal di Singapura.

Singapura beralasan menolak perjanjian ekstradisi itu, karena mereka menganut British Commowealth System yang menyulitkan perjanjian ekstradisi di Indonesia. Indonesia sendiri menganut sistem Eropa Continental.

Alasan itu dibantah oleh pemerintah Indonesia. Sebab Indonesia sudah punya perjanjian ekstradisi dengan Australia dan Hongkong yang punya prinsip hukum seperti Singapura. Singapura mampu berbuat seperti itu karena merasa kuat, merasa lebih hebat dari Indonesia. Ironisnya, Indonesia pun tidak berdaya menghadapi berbagai tekanan yang sangat tidak adil dan merugikan bangsa.

Pada 1998, Lee Kuan Yew menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI mengingatkan Indonesia agar jangan salah memilih wakil Presiden. Kata Lee, “Pasar uang akan bereaksi sangat negatif kalau sampai Indonesia memilih orang yang salah untuk menjadi wakil presiden.”

Pernyataan Lee itu mengarah pada figur Habibie. Kini, dalam pemilihan Presiden Indonesia 2004-2009, Singapura juga memainkan peranan aktif, dengan mengundang sejumlah capres ke Singapura, seolah-olah “restu” Singapura sangat penting dalam meraih kursi kepresidenan RI.

Dalam wawancara dengan BBC, 27 Maret 2004, Lee Kuan Yew menyerukan agar “Muslim Moderat memerangi Ekstrimis, yang ia sebut telah membuat teror di dunia.” Menurut Lee, berdiamnya kelompok Islam moderat membuat Islam ekstrimis leluasa meledakkan bom seperti di Bali dan di Madrid yang menewaskan 190 orang.

Tak adanya reaksi dari Islam moderat pula, kata Lee, yang mendorong Amerika Serikat dan sekutunya untuk memerangi kelompok ekstrimis Islam itu. Jika bom-bom terus meledak setelah 11 September, Madrid, dan Bali, lalu kelompok Islam moderat diam saja, dan bahaya Barat mulai terasa, maka tak akan ada yang menang melawan teroris. "Ini masalah yang sangat berbahaya," katanya.

Dalam suatu forum di Singapura awal bulan ini, "Bapak Bangsa Singapura" itu mengatakan bahwa minoritas etnis China Malaysia secara sistematis telah dipinggirkan. Ia juga mengatakan bahwa sangat penting etnis China yang dominan di Singapura untuk berani menghadapi Malaysia dan Indonesia yang didominasi Muslim.

Faktanya, lihatlah, begitu banyak pengusaha hitam culas yang tak lain beretnis Cina. Sedangkan warga Cina biasa kini bebas berimlek ria.

Di Malaysia, pernyataan Lee telah menyulut reaksi dari Malaysia, sehingga Perdana Menteri (PM) Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, langsung mengirimkan surat kepada Pemerintah Singapura, agar meminta maaf atas pernyataan Lee itu.

Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, seperti dikutip harian New Straits Times, menuduh Singapura mencoba mengacaukan Malaysia.

"Saya yakin motivasi Singapura adalah untuk membuat Malaysia terlihat buruk bagi investor asing, namun mereka tidak akan berhasil, karena dunia dapat melihat bahwa kami warga Malaysia selalu bersama sebagai satu bangsa," katanya.

Faktanya, etnis China mencapai penghasilan dua kali dari etnis Melayu, Etnis China juga memiliki dua pertiga dari kegiatan bisnis meski yang menjadi mayoritas adalah etnis Melayu. Demikian data statistik yang diluncurkan Organisasi Nasional Persatuan Melayu (UMNO).

Read More..

Tuesday, May 1, 2007

di balik bencana

Mungkin indonesia layak menyandang predikat baru yang terdengar agak ganjil : negeri bencana. Negeri dengan intensitas musibah yang tinggi, setidaknya untuk saat ini. Tsunami di aceh yang membawa serta ratusan ribu nyawa seolah menjadi pembuka dari musibah-musibah berikut yang datang beruntun, silih berganti menyapa dan manusia-manusia Indonesia kemudian hanya terpana. Ya, mungkin hanya itu yang bisa kita lakukan, terpana ! terpana menyaksikan rentetan bencana alam yang menggila dengan ribuan nyawa di tangannya, dan juga kembali terpana menyaksikan musibah yang diakibatkan oleh kealpaan kita. Pesawat yang jatuh dan lantas menghilang, lenyap tanpa seorangpun dapat menjelaskan apa yang menimpa saudara-saudara kita di atas sana, kapal laut yang tenggelam karena 'katanya' sudah tidak layak pakai tetapi dipaksa mengangkut beban di atas batas kemampuannya, kereta api yang senang sekali meninggalkan rel, ambruk, atau tabrakan dan kemudian membawa serta penumpangnya ke alam baka. Apa yang salah dengan Indonesia..? sepertinya akhir-akhir ini kematian begitu dekat dengan republik kita, dan ketika parade nestapa berderap riuh menggilas keangkuhan kita, duka membentang di langit nusantara. Sekedar terpana tentunya tidak cukup, menyalahkan mereka yang dianggap bertanggung jawab juga tidak lantas mengembalikan mereka yang meninggal setelah meregang nyawa dalam kekalutan.
Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia, ini fakta. Dan seringkali kita merasa bangga dengan kenyataan ini, walaupun kemudian dalam hati kebanggaan itu bias oleh rasa malu ketika membayangkan tingkah laku muslim indonesia itu sendiri. Sebagai umat beragama, sebagai masyarakat yang nilai-nilainya dibangun di atas cita rasa keberagamaan sudah sepantasnya apabila musibah dan bencana yang menimpa negeri kita disikapi dengan bijak, sesuai dengan dasar keimanan kita, mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah, Sang pencipta, Sang maha segalanya. Introspeksi mungkin kata yang cukup pantas disampaikan, walaupun sejak awal banyak yang meminta agar rentetan bencana ini tidak dikaitkan dengan hal-hal yang berbau metafisika, tidak dihubung-hubungkan dengan azab ataupun sentilan yang diberikan Tuhan kepada masyarakat indonesia yang sebagian besar amat jauh dari nilai-nilai agama, namun kenyatannya kita tidak bisa lari dari penafsiran seperti ini, khususnya dalam sebuah tatanan yang walaupun dalam kehidupan lahiriahnya jauh dari agama tapi masih tetap memendam nilai agama yang terpola sedemikian rupa.
Orang arab bilang : "Masho'ibu qoumin 'inda qoumin fawaidu" artinya kurang lebih musibah yang menimpa suatu kaum adalah pelajaran bagi yang lain. Lalu, kalau musibah itu justru menimpa kita ? seharusnya kita lebih berhak untuk menjadikannya sebagai bahan renungan, menjadikan kita lebih berhati-hati dalam mengayun langkah. Kebanyakan anak-anak sekolah dasar memahami pribahasa yang mengatakan "nasi telah menjadi bubur" namun agaknya masyarakat kita memang lebih mencintai bubur ketimbang nasi, karena kita selalu terbangun dan tersadar setelah semuanya terjadi, dan yang lebih parah adalah bahwa setelah bangun pun tidak ada tindakan yang dilakukan.
Keserakahan saya rasa adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pangkal huru-hara yang melanda indonesia. Keserakahan berhasil dengan gemilang membutakan hati para pemimpin yang menari di atas jeritan rakyat yang menggelepar karena lapar. Keserakahanlah yang kemudian juga mampu membalikkan rahmat yang seharusnya membawa kebaikan bagi semua menjadi sebuah malapetaka. Saat kecil, bermain dibawah guyuran air hujan merupakan keasyikan tersendiri, walaupun mungkin pulangnya disambut dengan jeweran di telinga. Hujan pula yang menjadi harapan para petani kecil yang mengharapkan kebugaran sawahnya, sehingga untaian doa demi doa yang disenandungkan menembus batas-batas langit bermuara pada satu kata, hujan. Lalu datanglah suatu masa ketika curah hujan yang mengucur deras kita sambut dengan cemas karena itu berarti makin tingginya air bah yang akan menenggelamkan sekolah, rumah sakit, dan rumah-rumah kita. Menambah tumpukan para pengungsi, wabah penyakit yang menggila, dan semuanya bermuara pada satu nama, keserakahan. Di dalam salah satu catatan pinggirnya, Gunawan Muhammad pernah menyebutkan sebuah cerita Leo Tolstoy tentang seseorang yang terus-menerus membeli tanah dan tak pernah kenyang memperluas milik. Pada suatu hari ia mencoba mengukur wilayah kekuasaannya. Ia membawa meteran, berjalan kaki menghitung petak demi petak. Perjalanan itu tentu saja jauh sekali, karena tanah itu nyaris tanpa batas. Pada suatu titik, ia lelah, rubuh, mati, dan dikuburkan. Akhirnya tempatnya adalah sebidang tanah yang tak lebih luas ketimbang balai-balai si miskin. Harus diingat, ketamakan manusia seringkali tidak hanya membawa akibat buruk bagi pelakunya, namun juga mengantarkan malapetaka yang tidak kecil bagi manusia-manusia lainnya, dan ini yang terjadi di negara kita.
Musibah dan bencana yang saat ini semakin akrab dengan kita, semakin hari seolah semakin menipiskan batas kesabaran kita, mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana alam, selain meningkatkan kewaspadaan dan membuktikan bahwa kita bisa tegar dalam meniti cobaan. Tapi untuk musibah-musibah yang disebabkan oleh kelalaian kita sebagai manusia, sudah saatnya kita berhenti menjadi tamak, dan berusaha belajar untuk lebih mengedepankan kepentingan bersama, agar karunia yang diberikan Tuhan tidak lagi berbalik menjadi bencana. Agaknya setiap orang yang menyebut dirinya bagian dari rakyat indonesia, setiap orang yang masih memendam rasa cinta kepada republik ini, baik itu presiden, menteri, wakil rakyat, gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RT, pegawai, guru, dosen, pedagang, petani, tukang ojek, supir, mahasiswa, pelajar, dan yang lainnya, harus kembali membuka lembaran sejarah, berguru kepada para pendahulu mereka yang justru dengan gaya hidup yang sederhana mampu membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan, mengeluarkan bangsa kita dari derita panjang berabad-abad, kepada satu era yang dilingkupi oleh nikmatnya rahmat dan karunia kemerdekaan. Saat itu, ambisi pribadi tidak mendapat tempat, keserakahan adalah satu hal yang langka, seluruh asa menggumpal dan meruncing untuk satu hal, kemerdekaan. Dengan itu mereka berhasil. Indonesia adalah negeri yang kaya, namun jangan sampai kekayaan itu justru menjadi malapetaka bagi rakyatnya hanya karena ketamakan segelintir manusia yang alpa.
Para ahli geologi mengatakan gempa yang mengguncang berbagai tempat di indonesia, dan kemudian tsunami yang menyusul adalah sebuah gejala alam dan sebuah keniscayaan dari pergeseran kerak bumi yang berada di bawah sana, sehingga lagi-lagi tidak perlu dikaitkan dengan azab dari Sang penguasa, karena tanpa campur tangan Tuhan pun gejala alam ini akan terjadi, saya tidak ingin memperdebatkan itu, karena satu hal yang saya tahu pasti adalah bahwa tidak ada satu hal pun yang telah, sedang dan akan terjadi, sekecil apapun itu, kecuali dengan izin dan atas sepengetahuan Allah SWT, apatah lagi sebuah kekuatan maha dahsyat yang mengirim ratusan ribu nyawa manusia ke alam baka.
Banyak jalan menuju Roma, dan banyak jalan pula yang digunakan Allah SWT untuk menyadarkan kita. Saya ingat kisah seorang pekerja bangunan yang kebetulan bertugas di lantai yang cukup tinggi, dia ingin memanggil temannya yang berada beberapa lantai di bawahnya, namun karena kerasnya deru mesin ditambah jarak yang tidak terlalu dekat, suaranya sama sekali tidak terdengar. Setelah beberapa kali berteriak tanpa hasil, ia kemudian mengambil sebuah koin dan melemparnya ke arah temannya yang berada di bawah, koin itu jatuh tepat di dekat kaki sang teman, namun yang dia lakukan hanyalah memungut koin tersebut dan memasukkannya ke kantong celananya. Merasa usahanya belum berhasil, si pekerja mengambil sebuah kerikil kecil dan menjatuhkannya, kerikil itu mengenai pundak si teman, dan ternyata itu tidak terlalu mengganggunya dan belum cukup untuk membuatnya mendongak ke atas. Merasa kesal karena usahanya masih belum berhasil akhirnya si pekerja mengambil sebuah batu yang lebih besar dan kembali menjatuhkannya. Batu tepat mengenai kepala temannya dan ia mendongakkan kepalanya ke atas. Mungkin sebelumnya, telah banyak sentilan yang diberikan Allah, namun karena riuhnya dunia yang mengelilingi kita, sentilan-sentilan itu sama sekali tidak mendapat perhatian yang semestinya, sehingga Allah merasa perlu untuk memberikan teguran yang lebih keras, sekedar untuk menarik perhatian kita dan mengembalikan kita ke jalan yang semestinya. Itupun kalau memang kita mau sedikit meluangkan waktu untuk berfikir, merenung. Mungkin, ribuan jiwa yang melayang bisa sedikit mengembalikan kesadaran kita akan dekatnya sang maut. Betapa maut yang biasanya hadir dalam sosok yang menakutkan bagaikan sisi lain dari hidup yang dengan teguh kita pertahankan. Betapa ruang yang kita isi sama sekali tidak seberapa di banding ruang lain yang jauh lebih besar di jagad raya ini, dan betapa waktu, dan masa yang kita lalui di dunia ini tidak seberapa dibanding masa yang telah dan akan berjalan tanpa kehadiran kita. Dan mengingat semua ini, mungkin kita akan sampai kepada kesimpulan betapa kerdilnya kita di hadapan alam, di hadapan kehidupan, kematian, apalagi di hadapan Sang pencipta.

Read More..