Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.
Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. "Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!" "Hai, Jack. "Tanpa senyum. "Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah." "Oh ya?" Tampaknya Bob agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. "Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong." "Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."
O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi. "Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala." ... Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
"Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu." Dengan ketus Jack menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan Menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya. Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.
"Halo Jack, Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. Salam,Bob)."
Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan. Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.
Drive Safely Guys...
Sunday, August 19, 2007
Kisah Pengendara Mobil
Orang bodoh VS orang pintar
Orang bodoh VS orang pintar
1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar. Walhasil Bosnya orang pintar adalah orang bodoh.
2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.
7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar "meratap-ratap" kepada orang bodoh agar tetap di berikan pekerjaan.
9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
11. Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Liem Siu Liong (BCA group) adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.
PERTANYAAN:
1. Mending jadi orang pinter atau orang bodoh?
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?
3. Mulia mana antara orang pinter atau orang bodoh?
4. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh?
KESIMPULAN:
1. Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
2. Jadilah Orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
3. Kata kunci nya adalah "resiko" dan "berusaha", karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter perpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh.
Berbuat baiklah
Segelas Air Susu
Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat
lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, "berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?" Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam hatiku aku
berterima kasih pada anda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita
tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.
Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa
wanita itu.
Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan... Wanita itu sembuh !!.
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya
pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu
pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang
menarik perhatuiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang
berbunyi.. "Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.." tertanda, DR Howard Kelly.
Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: "Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."
Puisi Bagi Buruh yang strezzzz
AKU (Create By : Butet Kertaradjasa.)
Akulah karyawan paling rajin di dunia,
Berani berkorban nggak nonton Piala Dunia,
Meski hati merana tapi tetap berdedikasi ,
Meski hari sabtu gini aku tetap berdasi ,
Akulah karyawan paling pantes dapet promosi,
Selalu paling depan ngisi daftar absensi ,
Di antara rekan akulah yang paling rajin ,
Temen yang nggak masuk pun aku absenin
Jam 8 kurang udah masuk kantor ,
Tidak lupa membeli koran,
Di koran banyak berita koruptor ,
Kenapa gua nggak kebagian ?
Sekarang hidup bener-bener nggak aman ,
Pake handphone di mobil digedor kapak merah ,
Itulah kenapa aku nggak beli mobil dan handphone ,
Tahun pertama ngantor masih tinggal di kost,
Tahun ketujuh ngantor udah pindah tempat kost,
Tahun pertama pergi-pulang nebeng tukang pos,
Di saat krismon pergi-pulang nebeng boss,
Akulah karyawan yang paling setia,
Sedari peletakan batu pertama kantor, aku jadi kulinya,
Sampai kantor punya jaringan komputer, aku jadi net-admin-nya,
Sampai kantor diledakin , aku jadi otaknya... !!
Manusia
Kisah Hidup Manusia
Kisah Hidup Manusia
Diawal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang sapi, "Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi ke padang rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun."
Sang Sapi keberatan, "Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun"
Maka setujulah Tuhan.
Dihari kedua, Tuhan menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!"
Sang monyet menjawab "What? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu"
Maka setujulah Tuhan.
Dihari ketiga, Tuhan menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggonggongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!"
Sang anjing menolak : "Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun ? No way. Kukembalikan 10 tahun padamu".
Maka setujulah Tuhan.
Dihari keempat, Tuhan menciptakan manusia. Sabda Tuhan: "Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!"
Sang manusia keberatan, katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun ? Itu terlalu pendek Tuhan. Let's make a deal. Karena Sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 70 tahun. Setuju ?"
Maka setujulah Tuhan.
AKIBATNYA ....................
Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan bersenang-senang.
30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita.
10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet.
Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat ....................
Komentar :
Tentu saja cerita ini fiktif; tetapi mengandung kebenaran tentang betapa manusia itu serakah dan sok pinter seolah melebihi Tuhan !
Sebelum Kamu Mengeluh
Sebelum Kamu Mengeluh
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda,Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup
6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat
7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul
8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan
9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan
10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
12. Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !
Life is a gift
Live it...
Enjoy it...
Celebrate it...
And fulfill it.
13. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu
14. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan
15. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,Mereka cantik/tampan karena anda mencintainya.
16. It's true you don't know what you've got until it's gone, but it's also true You don't know what you've been missing until it arrives!!!
Tuesday, May 1, 2007
di balik bencana
Mungkin indonesia layak menyandang predikat baru yang terdengar agak ganjil : negeri bencana. Negeri dengan intensitas musibah yang tinggi, setidaknya untuk saat ini. Tsunami di aceh yang membawa serta ratusan ribu nyawa seolah menjadi pembuka dari musibah-musibah berikut yang datang beruntun, silih berganti menyapa dan manusia-manusia Indonesia kemudian hanya terpana. Ya, mungkin hanya itu yang bisa kita lakukan, terpana ! terpana menyaksikan rentetan bencana alam yang menggila dengan ribuan nyawa di tangannya, dan juga kembali terpana menyaksikan musibah yang diakibatkan oleh kealpaan kita. Pesawat yang jatuh dan lantas menghilang, lenyap tanpa seorangpun dapat menjelaskan apa yang menimpa saudara-saudara kita di atas sana, kapal laut yang tenggelam karena 'katanya' sudah tidak layak pakai tetapi dipaksa mengangkut beban di atas batas kemampuannya, kereta api yang senang sekali meninggalkan rel, ambruk, atau tabrakan dan kemudian membawa serta penumpangnya ke alam baka. Apa yang salah dengan Indonesia..? sepertinya akhir-akhir ini kematian begitu dekat dengan republik kita, dan ketika parade nestapa berderap riuh menggilas keangkuhan kita, duka membentang di langit nusantara. Sekedar terpana tentunya tidak cukup, menyalahkan mereka yang dianggap bertanggung jawab juga tidak lantas mengembalikan mereka yang meninggal setelah meregang nyawa dalam kekalutan.
Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia, ini fakta. Dan seringkali kita merasa bangga dengan kenyataan ini, walaupun kemudian dalam hati kebanggaan itu bias oleh rasa malu ketika membayangkan tingkah laku muslim indonesia itu sendiri. Sebagai umat beragama, sebagai masyarakat yang nilai-nilainya dibangun di atas cita rasa keberagamaan sudah sepantasnya apabila musibah dan bencana yang menimpa negeri kita disikapi dengan bijak, sesuai dengan dasar keimanan kita, mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah, Sang pencipta, Sang maha segalanya. Introspeksi mungkin kata yang cukup pantas disampaikan, walaupun sejak awal banyak yang meminta agar rentetan bencana ini tidak dikaitkan dengan hal-hal yang berbau metafisika, tidak dihubung-hubungkan dengan azab ataupun sentilan yang diberikan Tuhan kepada masyarakat indonesia yang sebagian besar amat jauh dari nilai-nilai agama, namun kenyatannya kita tidak bisa lari dari penafsiran seperti ini, khususnya dalam sebuah tatanan yang walaupun dalam kehidupan lahiriahnya jauh dari agama tapi masih tetap memendam nilai agama yang terpola sedemikian rupa.
Orang arab bilang : "Masho'ibu qoumin 'inda qoumin fawaidu" artinya kurang lebih musibah yang menimpa suatu kaum adalah pelajaran bagi yang lain. Lalu, kalau musibah itu justru menimpa kita ? seharusnya kita lebih berhak untuk menjadikannya sebagai bahan renungan, menjadikan kita lebih berhati-hati dalam mengayun langkah. Kebanyakan anak-anak sekolah dasar memahami pribahasa yang mengatakan "nasi telah menjadi bubur" namun agaknya masyarakat kita memang lebih mencintai bubur ketimbang nasi, karena kita selalu terbangun dan tersadar setelah semuanya terjadi, dan yang lebih parah adalah bahwa setelah bangun pun tidak ada tindakan yang dilakukan.
Keserakahan saya rasa adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pangkal huru-hara yang melanda indonesia. Keserakahan berhasil dengan gemilang membutakan hati para pemimpin yang menari di atas jeritan rakyat yang menggelepar karena lapar. Keserakahanlah yang kemudian juga mampu membalikkan rahmat yang seharusnya membawa kebaikan bagi semua menjadi sebuah malapetaka. Saat kecil, bermain dibawah guyuran air hujan merupakan keasyikan tersendiri, walaupun mungkin pulangnya disambut dengan jeweran di telinga. Hujan pula yang menjadi harapan para petani kecil yang mengharapkan kebugaran sawahnya, sehingga untaian doa demi doa yang disenandungkan menembus batas-batas langit bermuara pada satu kata, hujan. Lalu datanglah suatu masa ketika curah hujan yang mengucur deras kita sambut dengan cemas karena itu berarti makin tingginya air bah yang akan menenggelamkan sekolah, rumah sakit, dan rumah-rumah kita. Menambah tumpukan para pengungsi, wabah penyakit yang menggila, dan semuanya bermuara pada satu nama, keserakahan. Di dalam salah satu catatan pinggirnya, Gunawan Muhammad pernah menyebutkan sebuah cerita Leo Tolstoy tentang seseorang yang terus-menerus membeli tanah dan tak pernah kenyang memperluas milik. Pada suatu hari ia mencoba mengukur wilayah kekuasaannya. Ia membawa meteran, berjalan kaki menghitung petak demi petak. Perjalanan itu tentu saja jauh sekali, karena tanah itu nyaris tanpa batas. Pada suatu titik, ia lelah, rubuh, mati, dan dikuburkan. Akhirnya tempatnya adalah sebidang tanah yang tak lebih luas ketimbang balai-balai si miskin. Harus diingat, ketamakan manusia seringkali tidak hanya membawa akibat buruk bagi pelakunya, namun juga mengantarkan malapetaka yang tidak kecil bagi manusia-manusia lainnya, dan ini yang terjadi di negara kita.
Musibah dan bencana yang saat ini semakin akrab dengan kita, semakin hari seolah semakin menipiskan batas kesabaran kita, mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mencegah bencana alam, selain meningkatkan kewaspadaan dan membuktikan bahwa kita bisa tegar dalam meniti cobaan. Tapi untuk musibah-musibah yang disebabkan oleh kelalaian kita sebagai manusia, sudah saatnya kita berhenti menjadi tamak, dan berusaha belajar untuk lebih mengedepankan kepentingan bersama, agar karunia yang diberikan Tuhan tidak lagi berbalik menjadi bencana. Agaknya setiap orang yang menyebut dirinya bagian dari rakyat indonesia, setiap orang yang masih memendam rasa cinta kepada republik ini, baik itu presiden, menteri, wakil rakyat, gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RT, pegawai, guru, dosen, pedagang, petani, tukang ojek, supir, mahasiswa, pelajar, dan yang lainnya, harus kembali membuka lembaran sejarah, berguru kepada para pendahulu mereka yang justru dengan gaya hidup yang sederhana mampu membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan, mengeluarkan bangsa kita dari derita panjang berabad-abad, kepada satu era yang dilingkupi oleh nikmatnya rahmat dan karunia kemerdekaan. Saat itu, ambisi pribadi tidak mendapat tempat, keserakahan adalah satu hal yang langka, seluruh asa menggumpal dan meruncing untuk satu hal, kemerdekaan. Dengan itu mereka berhasil. Indonesia adalah negeri yang kaya, namun jangan sampai kekayaan itu justru menjadi malapetaka bagi rakyatnya hanya karena ketamakan segelintir manusia yang alpa.
Para ahli geologi mengatakan gempa yang mengguncang berbagai tempat di indonesia, dan kemudian tsunami yang menyusul adalah sebuah gejala alam dan sebuah keniscayaan dari pergeseran kerak bumi yang berada di bawah sana, sehingga lagi-lagi tidak perlu dikaitkan dengan azab dari Sang penguasa, karena tanpa campur tangan Tuhan pun gejala alam ini akan terjadi, saya tidak ingin memperdebatkan itu, karena satu hal yang saya tahu pasti adalah bahwa tidak ada satu hal pun yang telah, sedang dan akan terjadi, sekecil apapun itu, kecuali dengan izin dan atas sepengetahuan Allah SWT, apatah lagi sebuah kekuatan maha dahsyat yang mengirim ratusan ribu nyawa manusia ke alam baka.
Banyak jalan menuju Roma, dan banyak jalan pula yang digunakan Allah SWT untuk menyadarkan kita. Saya ingat kisah seorang pekerja bangunan yang kebetulan bertugas di lantai yang cukup tinggi, dia ingin memanggil temannya yang berada beberapa lantai di bawahnya, namun karena kerasnya deru mesin ditambah jarak yang tidak terlalu dekat, suaranya sama sekali tidak terdengar. Setelah beberapa kali berteriak tanpa hasil, ia kemudian mengambil sebuah koin dan melemparnya ke arah temannya yang berada di bawah, koin itu jatuh tepat di dekat kaki sang teman, namun yang dia lakukan hanyalah memungut koin tersebut dan memasukkannya ke kantong celananya. Merasa usahanya belum berhasil, si pekerja mengambil sebuah kerikil kecil dan menjatuhkannya, kerikil itu mengenai pundak si teman, dan ternyata itu tidak terlalu mengganggunya dan belum cukup untuk membuatnya mendongak ke atas. Merasa kesal karena usahanya masih belum berhasil akhirnya si pekerja mengambil sebuah batu yang lebih besar dan kembali menjatuhkannya. Batu tepat mengenai kepala temannya dan ia mendongakkan kepalanya ke atas. Mungkin sebelumnya, telah banyak sentilan yang diberikan Allah, namun karena riuhnya dunia yang mengelilingi kita, sentilan-sentilan itu sama sekali tidak mendapat perhatian yang semestinya, sehingga Allah merasa perlu untuk memberikan teguran yang lebih keras, sekedar untuk menarik perhatian kita dan mengembalikan kita ke jalan yang semestinya. Itupun kalau memang kita mau sedikit meluangkan waktu untuk berfikir, merenung. Mungkin, ribuan jiwa yang melayang bisa sedikit mengembalikan kesadaran kita akan dekatnya sang maut. Betapa maut yang biasanya hadir dalam sosok yang menakutkan bagaikan sisi lain dari hidup yang dengan teguh kita pertahankan. Betapa ruang yang kita isi sama sekali tidak seberapa di banding ruang lain yang jauh lebih besar di jagad raya ini, dan betapa waktu, dan masa yang kita lalui di dunia ini tidak seberapa dibanding masa yang telah dan akan berjalan tanpa kehadiran kita. Dan mengingat semua ini, mungkin kita akan sampai kepada kesimpulan betapa kerdilnya kita di hadapan alam, di hadapan kehidupan, kematian, apalagi di hadapan Sang pencipta.
